Testbed 01 – Ch. 2: Falling Arrow

Jam di panel instrumen menunjukkan pukul 10.11 WIT. Aku berada di dalam suatu ruangan yang sempit. Dihiasi dengan pemandangan langit di atas Laut Arafura, hatiku merasa sejuk. Rasa puas dan bahagia akan terwujudnya impian yang telah aku inginkan sejak kecil bercampur menjadi satu. Melalui menara ATC dari Dolok, BMKG di Papua mengatakan bahwa kondisi cuaca di sekitar Laut Arafura sedang berawan ringan.

“Raden, kau dengar aku?” pintas Lucy melalui radio.

“Ya, aku dengar. Ada apa, Lucy?” balas aku melalui media yang sama.

“Sekarang kamu berada di ketinggian berapa?”

“Sekarang di ketinggian 20.000 kaki.”

“Baik, aku telah mendapatkan izin untuk menggunakan Laut Arafura untuk tempat ujicoba. Tidak ada pesawat asing selain kamu yang melintas daerah itu.” lanjut Lucy, “Sekarang, coba kamu lakukan beberapa gerakan akrobatik untuk menguji ketahanan pesawat.”

“Tunggu sebentar, aku tidak pernah mendapatkan lisensi terbang apapun. Bagaimana bisa aku menerbangkan pesawat ini? Bahkan pesawat inipun masih baru.” pintas aku memotong perkataan Lucy.

“Tenang, Raden. Sistem autopilot dapat membantumu dalam menerbangkan pesawat itu. Tenang saja.” balas Lucy dengan tenang, “Sekarang, kamu akan melakukan gerakan Immellmann Turn. Dorong tuas throttle sedikit ke depan dan tarik tuas kendali ke belakang.”

Atas arahan itu, dengan pasrahnya aku melakukan gerakan immellmann turn sesuai petunjuk. Pesawat mulai beranjak naik terus menerus, ditambah dengan suara gemuruh mesin yang semakin berisik. Tubuhku terasa tertarik ke belakang kursi, diikuti dengan rasa mual yang timbul karena posisi pesawat yang berputar hingga 180 derajat ke atas. Serentak kepalaku mulai terasa pusing karena tekanan g-force yang belum pernah aku alami sebelumnya. Tak lama kemudian, radiopun berbunyi.

“Sekarang, netralkan tuas throttle dan kemudi, lalu tarik tuas kemudi ke kiri. Buat pesawatnya seimbang seperti sebelumnya.”

Aku menarik tuas kendali ke kiri, seraya dengan menarik tuas throttle. Aku langsung menutup mata sambil menahan rasa mual yang hampir tidak dapat tertahankan. Pesawat berputar ke arah kiri. Seketika putaran pesawat itu berhenti ketika seimbang berkat autopilot yang telah mengambil alih kontrol pesawat.

“Raden, kau dengar aku?” tanya Lucy tak lama setelah itu.

Aku hanya dapat menyandarkan diriku di kursi pilot, dengan kondisi nafas tersengal-sengal dan keringat dingin bercucuran membasahi pakaianku. Tanganku terkujur lemas di kursi pilot, memejamkan mata setelah mengalami tekanan g-force yang tidak tertahankan.

“Raden, kau dengar aku?”

Raden….

Raden, tolong aku….

Tiba-tiba, pikiranku kembali masuk ke dalam mimpi itu, mimpi yang sangat buruk itu. Tetap dengan kondisi yang sama seperti mimpi sebelumnya, namun kali ini aku dapat mendengar suara seseorang memanggilku. Suaranya sangat lemah, namun aku dapat mendengarnya dengan jelas.

Raden, tolong aku…
Kakiku tidak bisa bergerak…
Aku tak kuat lagi…
Menahan sakit ini…
Raden, tolong aku…

Seraya dengan itu, badanku bergerak menuju sumber suara itu. Hanya berselang satu detik, sebuah ledakan muncul di hadapanku. Ledakan tersebut sangat besar dan kuat, bahkan aku dapat merasakan rasa panik yang muncul dari ledakan tersebut.

RADEN!

Akupun terbangun dari mimpi itu dengan paniknya. Nafasku tersengal-sengal, dengan rasa panik yang lebih kuat dari sebelumnya.

“Raden, ini Lucy! Kau dengar aku?” tegas Lucy.

“Ya, aku dengar.” jawab aku dengan nafas yang tidak beraturan.

“Apa kamu tidak apa-apa?”

“Ya, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”

“Raden, sekarang kembali ke landasan. Hari ini sudah cukup ujicobanya.”

“Baik.” jawab aku dengan singkatnya.

Aku mencoba menenangkan diri dengan menatap ke atas. Kulihat banyak sekali awan kecil di sana, bertebaran di atas hamparan langit biru yang indah. Hatiku terasa tenang dan sejuk, namun pikiranku tidak dapat melupakan mimpi yang kembali meneror kedamaian hatiku.

“Raden, turun ke ketinggian 15.000 kaki.” perintah Lucy.

“Descent to 15.000 feet, Testbed 01.” balas aku dengan Bahasa Inggris.

Ketika aku menurunkan pesawat, aku disambut dengan hamparan kapas putih keabu-abuan mengelilingi kaca kokpit.  Aku tidak dapat melihat keadaan sekitar. Semua yang kulihat hanyalah awan putih keabu-abuan yang menyelimuti pesawatku. Hatiku kembali merasa tenang, walaupun sedikit merasa sedih karena tidak puas akan performa diriku hari ini. Tak lama kemudian, air bermunculan di kaca kokpit. Terlihat sepertinya sedang hujan di bawah sana.

Sebuah hentakan keras menerpa pesawatku, membuat badanku terbentur sisi dalam kokpit. Awalnya aku pikir ini hanyalah angin turbulensi biasa, namun aku merasa guncangan yang dihasilkan sangat besar, lebih besar dari guncangan ketika aku menaiki pesawat komersil di kursi penumpang. Semua terlihat gelap, awan yang awalnya berwarna putih sekarang berubah menjadi abu-abu kelam. Jarak penglihatan pun mulai berkurang, bahkan aku tidak dapat melihat ujung Kiel Probe yang terletak di depan hidung pesawat. Panel instrumen masih berfungsi dengan baik, begitu pula dengan autopilot.

“Tower, this is Testbed 01, we’re experiencing heavy rain. Request IFR assistance to Doyok.” pinta aku.

“Testbed 01, Tower, roger. Turn right heading 075. Altitude at 15.000 feet.”, jawab Lucy.

“Turn right heading 075. Testbed 01.”

Akupun langsung membelokkan pesawatku ke arah yang dituju. Angin di luar terasa sangat kencang, bahkan guncangannya masih terasa hingga sekarang. Aku tidak tahu kemanakah aku terbang. Hanya petunjuk dari Lucy saja yang dapat aku harapkan agar dapat pulang dengan selamat.

Berselang sekitar satu menit setelah itu, guncangan serasa semakin kuat. Hujan terlihat semakin deras dan petir mulai berkilauan di luar sana. Tak lama kemudian, sebuah petir menyambar di samping pesawat dan membuat seluruh panel pesawat mati. Dengan panik, aku mencoba mengontak Lucy melalui radio, berharap radio masih berfungsi.

“Tower, this is Testbed 01, declaring emergency.”

“Testbed 01, Tower, what is your situation?”

“I’ve been struck by a thunder strike. I’m losing all instruments.”

Serentak Lucy terkaget akan hal itu, mengingat dia tahu bahwa aku tidak dapat menerbangkan pesawat. Dengan tegang, Lucy berbicara seperti biasa, tidak seperti seorang petugas menara ATC.

“Raden, kau tidak apa-apa?” tanya Lucy.

“Ya, tapi panel tidak dapat berfungsi.” jawab aku.

“Apa kau bisa menjaga pesawat tetap seimbang?”

“Aku tidak tahu. Awan di sini sangat tebal, di bawah 10 meter.”

“Begini, kamu ikuti perintah aku, aku akan memantau kamu lewat radar.”

“Bai….”

Radiopun terputus dari menara ATC. Lucy berubah menjadi panik dan berkali-kali mencoba mengontak aku. Sementara itu, aku hanya menunggu respon dari Lucy atas petunjuknya. Guncangan di pesawat menjadi lebih keras, sepertinya pesawat ini akan terpecah-belah. Akupun kembali mengontak Lucy dengan panik, namun tidak ada respon sama sekali. Di saat itulah aku menyadari bahwa kontak radio dengannya terputus. Tiba-tiba, pesawat bergeser ke kiri secara mendadak dan menghantam kepalaku dengan keras. Kesadaranku langsung menghilang dengan sekejap. Sejalan dengan itu, keberadaanku hilang dari radar, tepat di tengah Laut Arafura, Papua. Lucy yang terkejut akan hal itu hanya dapat berdiri lemas memantau radar sambil mencoba mengontakku, walaupun beberapa karyawan di sana mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia tidak percaya bahwa orang yang selama ini ia temani dan menemaninya sejak lama telah hilang dimakan badai di Laut Arafura. Menurut kesaksian para karyawan, ia langsung memerintahkan semua untuk pulang dan Lucy hanya mampu terdiam di menara ATC, memantau radar untuk memastikan apakah Raden masih ada.

Di dalam pesawat, aku masih tidak sadarkan diri. Dengan badan terkujur lemas, aku tidak dapat mengendalikan pesawatku, membiarkan pesawatku terbang mengikuti apa yang diinginkannya. Hanya Lucy yang dapat kupikirkan saat itu.

Lucy, dimanakah engkau?
Apa kau baik-baik saja…
Di dunia tempat kau tinggal?
Aku di sini, di dalam pesawatku…
Terperangkap dan terkujur lemas…
Menunggu hingga pesawat ini…
Tiba di tempat yang lain…
Dimana pesawatku ingin mendarat…
Tiba di tempat yang lain…
Dimana aku akan tinggal nanti…
Di dunia yang lain…
 
Jaga dirimu baik-baik…
Lucy…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: