Testbed 01 – Ch. 1: Prologue

Aku terbangun dari mimpi itu. Mimpi yang selalu menghantuiku sejak aku beranjak dari kota tempat aku dilahirkan. Mimpi yang sangat menyedihkan dan menyakitkan hati, bahkan aku ingin segera melupakannya namun tidak bisa.

Dalam mimpi itu, aku berlutut lemas di tengah jalan besar di sebuah kota yang telah hancur lebur, seperti di Kota Sarajevo ketika Perang Bosnia puluhan tahun silam. Kondisi pada saat itu hujan dan cukup gelap, sepertinya terjadi pada sore hari. Di sekitar tempatku berdiri, banyak orang mati bergelimpangan dan semuanya adalah warga sipil, terlihat dari pakaian dan barang bawaan mereka. Namun, hal yang membuatku bingung adalah tidak ada satupun orang yang menggunakan pakaian yang aku kenal di masyarakat sekarang. Semua orang menggunakan pakaian yang terlihat kuno, seperti pada Masa Revolusi Industri.

Aku menoleh belakang dan melihat ada satu orang yang sedang sekarat. Bersimbah darah, ia menjulurkan tangannya ke hadapanku sambil berkata sesuatu. Ia terlihat meminta tolong, namun suaranya tidak mampu mengalahkan suara hujan turun. Di belakangnya terdapat sebuah rongsokan besi yang cukup besar, menimpa kedua kaki orang tersebut, dan terdapat bara api di rongsokan besi tersebut. Sepertinya, rongsokan besi tersebut merupakan suatu pesawat terbang yang jatuh keras ke tanah, namun aku tidak bisa memastikannya karena bentuknya yang sudah sulit untuk diteliti secara sekilas. Tiba-tiba, suatu cahaya yang sangat menyilaukan datang dari balik rongsokan besi itu. Hingga akhirnya, aku dapat terbangun dari mimpi itu.

Tubuhku bersimbah keringat hingga membasahi seluruh baju dan tempat tidurku. Sambil bernafas tersengal-sengal, aku mencoba menenangkan diri sejenak. Jam dinding menunjukkan pukul 08.00, cukup terlambat untuk membuat sarapan dan kembali bekerja.

“Raden, ayo makan! Sarapan sudah siap.” dengan volume keras ia memanggil.

Mendengar panggilan dia, aku beranjak dari tempat tidur dan bersiap untuk membersihkan diri.

“Iya, lima belas menit lagi. Mandi dulu.” aku membalasnya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Lima belas menit berselang, dan aku telah siap untuk sarapan. Dengan berpakaian layaknya seorang montir, aku menuju tempat makan yang jaraknya tak jauh dari tempat tidur.

“Ayo, cepat makan. Nanti dingin makanannya.” kata dia.

Seraya duduk di tempat makan, aku menyantap sarapan dan memandangi dia. Ya, dia adalah Lucy, robot humanoid yang menemaniku sejak aku masih kuliah di jurusan teknik dirgantara. Dia adalah robot humanoid yang sebenarnya dibuat oleh kakakku, lulusan teknik robotika di Jepang, dan sekarang ia menetap di sana dan bekerja sebagai kepala riset bidang robotika. Dengan sikapnya yang ramah dan selalu membantu, aku selalu menyayangi dan menjaganya hingga sekarang, walaupun terkadang cerewet dan tata bicaranya yang belum fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia lantaran kakakku menggunakan suara karakter seorang karakter penyanyi virtual yang sedang booming di sana, untuk mengisi suara Lucy. Untuk mengatasinya, aku dan Lucy selalu berbicara dengan Bahasa Jepang, walaupun aku selalu mengalami kesulitan pada awalnya dan pernah aku berbicara dengan membaca buku tata cara berbicara dalam Bahasa Jepang.

Awal mulanya dimulai ketika aku menduduki kelas 3 SD. Waktu itu, aku meminta kepadanya agar dibuatkan sebuah robot yang dapat menjadi teman bermainku. Awalnya itu adalah sebuah permintaan yang konyol dan tidak mungkin dipenuhi, dan aku tidak mengharapkan hal tersebut terjadi karena pada dasarnya aku hanya bercanda. Namun, ketika aku menduduki bangku SMA kelas 3, seorang kurir datang mengantarkan sebuah kerat yang sangat besar ke rumah. Ia mengatakan bahwa barang tersebut dikirim dari kakakku di Jepang. Ketika aku melihat isi dari kerat itu, aku melihat Lucy dalam kondisi standby di dalam tempat tidur khusus. Awalnya aku panik lantaran tidak tahu bagaimana cara merawat robot ini, bahkan aku sempat memarahi kakakku yang secara tiba-tiba mengirimkan robot tersebut. Namun, ia berkata bahwa ia ingin memenuhi keinginan adiknya sebagai pengingat bahwa aku memiliki kakak di Jepang. Ia juga mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan rumah, namun karena tuntutan pekerjaan maka ia tidak dapat kembali pulang. Mendengar itu, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadanya dan berjanji akan merawat Lucy hingga akhir hayat.

“Hei, sampai kapan kamu memandangku? Ayo, cepat. Sebentar lagi kita harus bekerja.” kata dia.

“Iya, sabar. Bagaimana kondisi kamu? Apa ada yang perlu diperbaiki?” balas aku.

“Semuanya baik. Baterai baik, inti penggerak baik, rotor juga.”

“Oke.” balas aku dengan tersenyum.

Aku menyelesaikan makananku, menaruhnya di wastafel, dan segera beranjak bersama Lucy ke hangar yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalku.

Namaku Raden Wijaya, dan aku adalah seorang teknisi pesawat. Bersama Lucy, aku mendirikan sebuah lapangan terbang di daratan Dolok, Papua. Awalnya aku membuatnya di sana karena ingin membuat sebuah pesawat tempur impianku, namun karena keterbatasan dana dan kurangnya pengalaman, aku memutuskan untuk membuka jasa perbaikan pesawat di sana, hingga berkembang dan mempekerjakan lima orang penduduk lokal. Lucy selalu ambil andil di bidang Air Traffic Controller dan pengelasan, sementara aku di bidang perawatan mesin dan pengecekan perangkat pesawat.

Kami selalu berhubungan baik dengan mereka dan penduduk sekitar, bahkan kami sering diberikan bantuan bahan makanan dari penduduk lokal untuk logistik kami. Kami juga sering berkunjung ke perkampungan lokal di sana dan saling bertukar satu sama lain. Lucy juga senang bermain dengan anak-anak di sana, sementara aku lebih suka mempelajari adat-istiadat di sana dan bertukar cerita satu sama lain. Selain itu, aku dan Lucy juga mulai merancang pesawat tempur impianku, dengan uang sisa hasil bekerja kita dan beberapa peralatan bekas yang telah didaur ulang.

Tiga tahun berselang semenjak aku membuka jasa perbaikan pesawat, pesawat tersebut akhirnya selesai dibangun. Dengan bantuan Lucy dan lima karyawanku, pesawat tempur impianku siap mengarungi angkasa. Pesawat tersebut bermoncong seperti Sukhoi Su-35 “Flanker-E” dengan lubang udara seperti General Dynamics F-16 Fighting Falcon. Sayapnya bertipe delta-wing seperti General Dynamics F-16XL dan ekornya bertipe V-tail seperti Fouga Magister. Mesinnya pun dirancang unik, diadaptasi dari Rockwell-MBB X-31.

Namun, tidak semuanya berjalan sempurna. Aku mengusulkan panel kontrolnya bersifat touchscreen tablet, agar berkesan unik dan berteknologi tinggi. Tapi, karena keterbatasan dana yang ada dan belum ada feasibility study mengenai hal tersebut. Begitu pula dengan sistem 3D Vector-Thrust-nya yang belum ada yang membuatnya di Indonesia dan akan sangat mahal bila mengimpornya dari luar, sehingga perlu pembelajaran lebih lanjut. Selain itu, aku tidak tahu-menahu soal kokpit pesawat. Yang aku ingat hanyalah kokpit dari pesawat Mikoyan Gurevich MiG-21 “Fishbed” yang aku pelajari waktu kuliah lalu. Sempat terjadi perdebatan yang panjang antara aku dan Lucy, hingga akhirnya aku menyatakan proyek ini buntu dan tidak dapat dilanjutkan.

Sudah lima tahun telah berlalu semenjak peristiwa tersebut. Aku merasa seperti orang yang gagal dan tidak memiliki tujuan apapun. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang, aku hanya bekerja sebagai tukang reparasi pesawat dan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup saja.

“Apa ada order untuk hari ini?” tanya aku.

“Tidak, hari ini sedang tidak ada order.” jawab Lucy.

“Lho? Lalu kita mau mengerjakan apa?”

“Ra-ha-sia.” sambil tersenyum manis kepadaku dan berjalan meninggalkanku.

Aku mengikuti Lucy berjalan menuju hangar tempat bersarangnya proyek pesawat tempur yang telah kutinggalkan. Di sana terdapat lima karyawan dan Lucy yang telah berdiri menungguku. Di belakangnya terdapat proyek pesawat tempurku yang telah ditutupi oleh kain terpal berwarna biru. Lucy memberikan sebuah alat pengendali pengait kepadaku.

“Coba kamu tekan ini.” Pinta dia sambil memberikan alat tersebut kepadaku.

Ketika aku menekannya, kain tersebut terangkat dan seraya wujud proyek pesawat tempur yang telah kutinggal lama berubah menjadi sebuah pesawat tempur yang telah siap terbang.

“KEJUTAN!” teriak dia seraya aku melihat pesawat tersebut.

“Ini adalah pesawat tempur yang kamu inginkan, bukan? Dan ini adalah helm untuk pilot pesawat tempur. Aku dan karyawan lainnya sengaja membelinya untuk kamu.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa selain terkesima karena untuk pertama kalinya, aku melihat dengan kedua mataku sendiri bahwa pesawat yang selama ini aku idamkan telah selesai. Ditambah pula dengan pemberian helm untuk pilot pesawat tempur ini kepadaku.

“Semua persiapan sudah selesai, Lucy.” bilang seorang karyawan mendekatinya.

“Baik, semuanya kembali ke pos masing-masing.” jawab dia, “Sekarang, kamu yang akan mengendarai pesawat tersebut untuk pertama kalinya. Ayo.” lanjut dia sambil mendorongku hingga ke kokpit pesawat.

“Hei, tunggu dulu. Jangan dorong-dorong.” jawab aku.

Aku diminta untuk duduk di kursi pilot di dalam kokpit. Kokpitnya berwarna hitam dan terlihat biasa saja. Setelah aku menduduki kursi pilot, semua instrumen pesawat menyala secara spontan.

“Selamat Pagi, Raden.” panel instrumen tersebut berbunyi.

Akupun terkaget akan hal ini. Padahal panel yang aku canangkan sebelumnya tidak berjalan lancar, bahkan aku tinggalkan untuk mencari solusinya.

“Maaf, panel intrumen ini aku modifikasi dengan Voice Command dan Voice Respond, sehingga kamu tidak mengalami masalah ketika lupa menekan perintah apa yang kamu inginkan.” jawab Lucy atas kebingunganku.

Aku melihat sekitarku telah dirancang dengan baik. Aku masih tidak percaya bahwa mereka yang merancang dan membuat kokpitnya terlihat bagus. Sebelumnya, kokpitnya terlihat seperti pesawat pada masa Perang Korea, dimana terlihat sempit dan terlalu banyak panel.

“Pedal di kakimu adalah untuk Rudder. Di sisi kanan kamu adalah Controller Stick, dan di sisi kirimu adalah untuk Throttle, Flaps, dan Brake.” lanjut dia.

“Lucy…,” jawab aku sambil menahan tangis.

“Kenapa?”

“Aku tak tahu harus berkata apa kepada kamu dan para karyawan, aku sangat berterima kasih atas kerja keras kalian. Aku tak tahu harus membalas apa atas pemberian kalian.”

“Jangan khawatir,” jawab Lucy sambil memelukku, “Cukup kita selesaikan uji terbang pesawat ini saja sudah cukup. Aku tahu ini adalah impianmu, maka terpenuhinya impianmu adalah balasan yang cukup bagiku.”

Setelah itu, ia menutup kaca kokpit dengan tersenyum dan meninggalkanku untuk segera ke menara ATC. Aku langsung memasang sabuk pengaman dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

“Raden, do you hear me?” tanya Lucy dengan Bahasa Inggrisnya yang fasih.

“Yes, loud and clear.”

“For this flight, your call sign is Testbed 01. Before take-off, you need to check the controller first. First, checking aileron.”

Aku arahkan controller stick ke kiri dan kanan.

“Check. Now, the elevator.”

Aku arahkan controller stick ke depan dan belakang.

“Check. Now, the rudder.”

Aku injak pedal mulai dari kaki kiri hingga kaki kanan.

“Check. Now, push the throttle until ten percents.”

Aku geser tuas throttle di sisi kiri ke depan. Mesin pesawat mulai bergemuruh dan pesawat mulai bergerak ke luar.

“Testbed 01, Tower, proceed to taxi B2, take-off at runway 74.”

“Proceed to taxi B2, take-off at runway 74, Testbed 01.” jawab aku.

Sesaat setelah tiba di landasan pacu, aku langsung meminta izin menara ATC untuk tinggal landas.

“Tower, this is Testbed 01, requesting for take-off at runway 74.”

“Testbed 01, Tower, you’re cleared for take-off at runway 74. Flaps set to take-off.”

Setelah itu, aku langsung mendorong tuas throttle hingga penuh. Pesawat pun melaju dengan perlahan lalu menjadi cepat. Getarannya juga tidak kalah cepat, getarannya sangat besar bahkan akupun mulai panik dan mulai berdoa agar tidak terjadi apa-apa. Sepuluh detik berselang, panel instrumen menunjukkan tulisan “V-1”, batas kecepatan untuk menentukan apakah ingin tinggal landas atau tidak.  Landasan yang tersisa tinggal setengah lagi, sementara pesawat belum mau tinggal landas. Jantungku mulai berdetak kencang dan keringat dingin mulai keluar karena khawatir pesawat ini akan gagal tinggal landas. Getaran di kokpit masih keras, dan mesin masih bergemuruh keras. Terasa bahwa pesawat sudah mulai mengangkat badannya namun belum mampu lepas landas. Tidak lama kemudian, panel instrumen menunjukkan tulisan “V-2”, batas aman untuk tinggal landas. Serentak aku menarik tuas kemudi dan pesawat mulai mengangkat moncongnya. Aku sudah pasrah akan apa yang akan terjadi, bahkan bila aku mati karena gagal lepas landas. Aku tak dapat melihat ke depan, namun aku melihat kondisi pesawat dari sisi samping. Pesawat mulai mengangkat sedikit, lalu tak lama kemudian, pesawat itu lepas landas, menyisakan sekitar seperempat dari landasan yang tidak tersentuh. Aku berhasil lepas landas, dan seluruh karyawan dan Lucy bersorak gembira akan hal tersebut.

Akupun menghela nafas sesaat karena aku merasa panik dan ini adalah percobaan terbang untuk yang pertama kalinya. Setelah itu, dengan bahagia aku menyatakan pesawat tempur Testbed 01 lulus terbang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: