Testbed 01 – Ch. 4: A World Named Cambria

Langit sudah menunjukkan warna biru kelabunya. Matahari telah bersarang di tempat peristirahatannya. Bulan sabit telah bangkit untuk memulai pekerjaannya sebagai penjaga malam. Dua bulan lainnya yang berukuran lebih kecil mengikutinya. Bintang-bintang dan aurora mulai menghiasi malam yang sepi nan indah. Langitpun berubah menjadi berwarna biru tua dengan nuansa hijau laut. Suatu pemandangan yang sangat indah dan belum pernah kulihat sebelumnya. Memandang dari kokpit sebuah pesawat yang belum berfungsi lagi, aku terdiam dalam hening malam. Ditemani dengan suara jangkrik dan gemersik dedaunan yang terusik oleh angin malam yang menghembus, aku merasa seperti di rumah. Untuk berjaga-jaga, aku telah siapkan senter dan peralatan tukang untuk keamanan. Mengenai logistik, aku hanya berbekal dua batang coklat, sebuah termos berisi air mineral, dan satu slop rokok beserta korek api pemberian dari salah satu karyawan di Dolok. Sayangnya aku bukan perokok, sehingga aku tidak akan menggunakannya. Dengan logistik itu, sepertinya hanya dapat bertahan 2-3 hari saja. Untuk selebihnya, harus melakukan perburuan.

Tiba-tiba, suara gemersik tanaman ladang muncul dari sisi kanan. Suaranya seperti ada yang datang melalui tanaman ladang. Sontak aku bersiaga memegang kunci inggris dan menyalakan senter untuk mencari penyebab suaranya. Hantu bukanlah masalah, yang aku khawatirkan adalah kalau yang muncul adalah serigala atau hewan liar lainnya dan gerombolan maling besi. Tak lama kemudian, seseorang muncul dari ladang dan ternyata adalah suster di klinik tempat aku dirawat sebelumnya. Dengan riang gembira, ia mengajakku untuk makan bersama, walaupun hanya sebatas tebakan bahasa tubuh saja. Aku mencari batu, daun, dan kayu kering untuk dijadikan api unggun. Setelah membuat api unggun, aku duduk di dekat perapian itu, diikuti dengan suster tersebut. Ia lalu meletakkan keranjang piknik di sampingnya, dan mengeluarkan makanan yang telah disiapkannya. Makanan tersebut adalah sandwich. Ia menyodorkan kepadaku sandwich tersebut dan aku menerimanya sambil mengucapkan terima kasih dalam Bahasa Inggris.

“Do you speak English?” tanya suster klinik itu setelah aku berterimakasih.

“Yes, I do,” jawab aku sambil sedikit terheran bahwa ada orang lain yang dapat mengerti salah satu bahasa yang aku pahami.

“Ah, finally I can talk to you!” balas suster itu dengan gembira, “Boleh tahu siapa namamu?”

“Namaku Raden, Raden Wijaya. Kalau kamu?”
“Namaku Astrid Blackwood. Panggil saja Astrid.” Lanjut dia, “Dari bahasamu, sepertinya kamu bukan dari daerah ini. Dari mana asalmu?”
“Aku dari Indonesia.”

Astrid terlihat asing dengan jawabanku. Lalu, ia bertanya “Indonesia? Aku belum pernah dengar daerah itu. Ada dimana itu?”
“Indonesia adalah suatu negara kepulauan, ada di antara Asia dan Australia.”
Kulihat Astrid berpikir sejenak. Sepertinya dugaanku bahwa ini bukan dunia nyata ternyata benar.

“Maaf, sepertinya aku tidak pernah melihat Indonesia itu di peta sebelumnya. Apa itu negara baru?” Tanya Astrid.
“Sebenarnya tidak, namun jangan dipikirkan. Itu berada di daerah yang sangat jauh.” Jawab aku sambil tertawa sedikit untuk menyelesaikan rantai pertanyaan dan memulainya dengan yang baru.

“Sebenarnya, benda besar apa yang kamu tempati tadi?” Astrid bertanya seakan belum pernah melihatnya sebelumnya.
“Ini? Ini adalah pesawat tempur, biasanya digunakan untuk perang. Namun, ka…”
Seketika, Astrid terperanjak menghindariku seakan memiliki trauma buruk akan perang. Wajahnya yang cantik berubah menjadi wajah yang menakutkan. Langsung aku mencoba menenangkan Astrid.
“Tenang, Astrid. Tenang. Ini hanya pesawat uji saja, jadi tidak akan digunakan untuk perang. Tenang saja.”
“Apa aku dapat mempercayai perkataanmu?” Astrid memastikan perkataanku.
“Ya, kamu dapat memegang janjiku. Aku janji.” Aku menjanjikan hal yang sebenarnya sulit untuk dipegang, namun aku mencoba menepatinya demi Astrid.
“Baiklah, aku pegang janjimu.” Seraya itu, ia duduk kembali. Suasana yang tenang dan menghangatkan, kini menjadi dingin, sedingin malam hari di dunia ini.

“Astrid, boleh tahu sebenarnya aku berada dimana?” tanya aku.
“Kita sekarang ada di Astralaya, sebuah negara republik yang berada di sisi timur Cambria. Ibukotanya adalah Dramaga, tepat di sisi timur negeri ini dan berhadapan langsung dengan Laut Andien. Akan memakan waktu lama jika kau ingin ke sana, karena jaraknya jauh.” Jelas Astrid sambil ia menyantap sandwich yang ia ambil dari keranjang.
“Lalu, apa ada kota besar di sekitar sini? Karena aku ingin mencari peralatan untuk memperbaiki pesawatku ini.”
“Di sebelah utara, tak jauh dari sini, ada kota bernama Suryachandra. Mungkin kamu akan menemukan peralatan yang dibutuhkan, karena di sana ada banyak sekali toko peralatan, terutama untuk suku cadang Vespa.”
“Vespa? Apa itu?” Tanya aku.
“Vespa adalah sebuah kendaraan roda tiga bermotor yang digunakan oleh penduduk Astralaya untuk transportasi mereka.” Jawab Astrid dengan senangnya.
“Oh, yang terlihat seperti gerobak roda tiga itu, ya?” Jawab aku.
“Iya, betul. Ternyata kamu tahu juga mengenai transportasi penduduk sini.” Puji Astrid kepadaku.
“Ah, tidak juga. Itupun karena aku dipaksa menaikinya oleh gadis itu,” Jawab aku dengan canda.

Setelah itu, aku mencoba menenangkan diri dan mencerna seluruh informasi mengenai negara ini. Sambil melihat api unggun, aku ingin tahu siapa yang menarikku ke pesawat ini.

“Astrid, apa….”
Seketika kulihat Astrid sedang tertidur dengan posisi duduk dan badan terombang-ambing ingin jatuh ke tanah. Wajahnya terlihat polos, sehingga sangat cantik untuk dilihat.

“Haaahh…,” Aku menghela nafas, “Ada-ada saja, Astrid.” Sembari aku memegang badan Astrid dan menidurkannya dalam posisi tidur yang benar. Setelah itu, aku melepaskan jaket kulitku dan memberikan ke Astrid sebagai selimut tidurnya. Setelah itu, aku memastikan bahwa daerah sekitar Astrid aman dan langsung tidur di dekatnya. Sambil menunggu untuk tidur, aku kembali berpikir apa yang akan terjadi nantinya. Dunia tempat aku berada sekarang sangat berbeda dengan dunia aku berasal. Lalu, aku berpikir bagaimana kabar Lucy di sana. Aku hanya dapat berharap semoga ia baik-baik saja dengan karyawan lainnya.

Saat aku tidur, aku kembali bermimpi hal yang aneh. Kali ini, aku berada di dalam kokpit pesawat. Cuaca di luar sedang hujan sedang. Awalnya aku berpikir bahwa aku telah kembali ke dunia nyata. Di sebelah kanan terdapat kota yang sedang terbakar. Sepertinya sedang terjadi perang besar di sana. Bergegaslah aku ke kota itu untuk melihat kondisi di sana. Ketika aku terbang di atasnya dalam ketinggian yang cukup rendah, terlihat bahwa kota tersebut telah porak-poranda akibat suatu perang. Kebakaran terjadi dimana-mana, banyak bangunan yang telah runtuh, dan banyak orang-orang yang melarikan diri keluar dari kota. Kondisi di atas kota sedang diselimuti oleh awan hujan dan asap yang cukup pekat. Karena kondisi tersebut, aku mencoba keluar dari asap itu dengan menaikkan ketinggian pesawat. Sesampainya di atas, langit hujan berubah menjadi langit yang penuh api. Peperangan antar armada langit yang berbentuk seperti segitiga yang besar dan benda kecil bersayap ‘V’, melayang di udara dengan meriam dan senapannya, berlangsung sangat sengit. Karena itu, aku harus mencoba menghindari tembakan yang meleset menghampiri pesawatku. Seperti pada sebuah film animasi fiksi Jepang, namun armada langit tersebut kelihatannya berbentuk lebih pipih dari yang di film tersebut. Aku lebih menganalogikan dengan film “Star Wars Series”, namun dengan suasana bukan di luar angkasa.

Ketika sedang mencoba menghindari daerah tersebut, instrumenku berbunyi menandakan ada yang mengejarku dari belakang dengan kecepatan tinggi. Serentak aku mendorong tuas throttle dan melakukan berbagai manuver dengan panik. Tak lama berselang, sebuah benda udara yang berbentuk seperti pempek lenjer datang menghampiriku, tepat di hadapanku. Karena kecepatan masing-masing yang begitu cepat, kurasa melakukan manuver menukik ke bawah adalah jalan terakhir. Serentak aku mematikan throttle, memutarbalikkan pesawat, lalu menukik tajam ke bawah. Sayangnya, benda tersebut datang lebih cepat, sehingga menghantam belakang pesawat dan membuat pesawat bergetar sangat keras. Hal tersebut membuatku takut dan aku terbangun dari mimpi aneh itu. Nafasku tersengal-sengal ketika bangun, seperti orang yang baru saja terlepas dari hal yang sangat menakutkan. Aku melihat keadaan sekitar apakah adahal yang aneh berada di sekitarku. Astrid masih tertidur dengan pulas di tempat tidurnya. Wajahnya yang polos dan memukau itu membuat hatiku semakin tenang dan yakin bahwa semua hal buruk tersebut hanyalah mimpi belaka. Langit telah mencampakkan warna merahnya di ufuk timur, menandakan fajar telah datang. Aku segera mencari tempat kosong dan menunaikan shalat shubuh.

Apa ada hubungannya antara dunia ini dan mimpi-mimpiku? Aku harus mencari tahu soal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: