Testbed 01 – Ch. 3: Mirage

Kosong…

Itulah ungkapan pertama atas apa yang dapat kubayangkan pada saat itu. Kekosongan yang mungkin sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata pada saat pertama kalinya aku, dengan tenang dan jelas, melihat tempat tersebut. Di sana hanya terdapat diriku, berdiri sendiri di tengah kekosongan itu. Aku berjalan untuk menyelidiki tempat tersebut. Tempatnya sangat luas, mungkin akan memakan waktu lama untuk berjalan dari pangkal tempat itu hingga ke ujung lainnya.

Semenit aku berjalan, aku menabrak sesuatu. Sepertinya sebuah tembok yang berwarna sama dengan warna tempat itu, sehingga sulit dibedakan mana sisi temboknya. Ya, kepalaku terasa sedikit sakit, namun itu bukan suatu masalah yang ingin aku ketahui lebih lanjut. Aku merasa penasaran atas tembok ini. Ada apa di balik tembok ini?

Sambil meraba tembok dengan tangan kiriku, aku berjalan menelusuri tembok yang sulit terlihat ini. Tak lama, aku merasakan ada yang janggal dengan tembok ini. Aku merasakan ada celah yang terbuka di antara tembok ini. Kulihat celah itu, terlihat seperti celah pintu yang tertutup dengan tidak sempurna. Dengan rasa penasaranku, aku membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.

Di dalamnya, terdapat ruang makan dimana aku dan Lucy biasa berkumpul di rumah. Terlihat seperti ruang makan biasa, namun tidak ada siapapun di sana. Ketika aku ingin kembali ke tempat itu, pintu tersebut telah hilang, berubah menjadi lorong menuju kamar tidurku. Kucoba keluar dari ruang makan melalui pintu rumah. Aku melihat sesuatu yang tak dapat dipercaya dengan mata kepalaku sendiri.

Semua terlihat kelam, layaknya akan hujan badai. Hangar yang biasanya digunakan untuk berkerja, kini tinggal rangkanya saja. Ketika aku menoleh ke belakang untuk melihat menara ATC, sekarang sudah runtuh, hanya menyisakan gedung bagian bawahnya saja. Serentak aku teringat akan proyek pesawatku yang aku tinggalkan di dalam hangar, sehingga aku berlari menuju hangar. Ketika tiba di sana, pesawat itu sudah tiada. Hal yang membuatku terheran adalah kondisi hangar yang seakan ditinggalkan oleh pemiliknya secara terburu-buru. Dengan rasa heran, aku berjalan menuju landasan pacu untuk melihat kondisinya sembari melihat sekeliling.

Ketika aku tiba di landasan pacu, aku melihat awan hitam di atas langit sedang menuju ke landasan pacu. Sepertinya suatu pesawat yang mengalami kerusakan mesin yang parah akan melakukan pendaratan darurat di landasan pacu ini. Aku bergegas untuk mencari alat pemadam di sekitar lapangan terbang, namun sepertinya tidak ada atau berada di tempat yang sulit ditemukan. Pesawat itu semakin mendekati landasan pacu, aku dapat melihat bentuk kasar dari pesawat itu. Terlihat seperti pesawat Boeing B-737 Series, dengan mesin sisi kiri mengeluarkan awan hitam pekat.

Aku tidak menemukan alat pemadam tersebut. Ketika aku melihat pesawat itu, pesawat itu tidak mendekat ke arah landasan pacu. Pesawat itu akan menghampiri diriku. Dengan panik, aku berlari menjauh dari pesawat itu, namun pesawat itu mendekat lebih cepat dari kecepatan lariku. Tidak lama kemudian, pesawat itu menyentuh tanah dan mulai hancur berkeping-keping. Badan pesawat itu tetap bergerak mendekatiku. Akhirnya aku tertabrak dengan badan pesawat itu, terlindas dan terkubur di dalam bangkai pesawat itu.

Penglihatanku kembali kosong, tidak terlihat apa-apa. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan pada kaki kananku, dan sepertinya terdapat patahan di bagian tulang kering. Aku hanya dapat terbaring di dalam kekosongan ini, dengan rasa sakit yang mendalam di kaki kanan, mengharap keajaiban datang menghampiriku, atau ajal akan menjemputku. Aku memejamkan mataku untuk mencoba melupakan sejenak rasa sakit itu, walaupun hanya sedikit. Akhirnya, aku tertidur dan melupakan rasa sakit itu.

Sepertinya tiga jam telah berlalu sejak aku memejamkan mataku, dan aku tetap berada di kekosongan itu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang dan nanti. Tak lama kemudian, sebuah cahaya kembali muncul dari kejauhan, tepat di hadapanku. Cahaya itu membesar seiring dengan waktu, seakan ingin menelan jasadku yang telah usang dan tidak berdaya ini. Hanya dalam waktu 30 detik, aku berada di dalam cahaya yang menyilaukan itu. Aku langsung menutup mataku karena tidak tahan akan silaunya cahaya itu.

Aku membuka mataku setelah kurang lebih 15 detik, karena menurutku kondisinya sudah tidak menyilaukan. Aku melihat terdapat atap kayu di atasku.  Badanku ditutupi oleh selimut yang hangat. Aku mencoba bangun dari tempat tidur dan melihat sekitarku. Terlihat semuanya bernuansa cokelat, seperti di puskesmas di daerah pedalaman. Di sebelah kiriku terdapat jendela terbuka. Di luar sana terdapat pemandangan pedesaan dan pertanian layaknya di Eropa pada zaman dahulu kala. Kincir angin, ladang gandum yang luas, dan perbukitan yang hijau terpampang di sana. Pemandangannya sangat nyaman untuk dipandang dan dinikmati. Angin yang menghembus ke dalam ruang kayu ini terasa sejuk, seperti ketika aku dan Lucy berwisata ke Temanggung, Jawa Tengah beberapa tahun sebelum berangkat ke Merauke, Papua.

Di sisi kiriku terdapat meja kecil dengan keranjang berisi buah-buahan dan segelas berisi air mineral. Sebenarnya aku ingin memakannya, namun tidak ada satupun buah yang kukenal ada di sana. Aku mengambil gelas tersebut dan meminumnya hingga habis. Rasanya sejuk dan seperti bukan air mineral kemasan yang selalu dijumpai di Indonesia.

Tidak lama, seorang wanita datang menghampiriku. Mungkin ia adalah suster, karena ia membawa papan jalan dengan kertas dan pensil di atasnya. Ia berbicara kepadaku, namun aku tidak dapat memahami apa yang ia bicarakan. Aku hanya dapat menggelengkan kepala sebagai responnya, dan mungkin dengan bahasa tubuh untuk respon lainnya. Wanita itu hanya mengambil buah yang ada di keranjang itu lalu memberikannya kepadaku. Sepertinya ia meminta agar aku memakannya. Aku ambil buah itu dan memakannya langsung. Buah itu berwarna merah, dengan daging berwarna putih di dalamnya. Buah itu rasanya asam, namun aku terkaget akan rasa asamnya karena aku mengira sebelumnya bahwa rasanya manis. Melihat reaksiku, wanita itu tertawa kecil sambil mencoba mengajak berbincang denganku.

Sosok gadis datang dari balik tirai putih di sisi kiriku. Ia berambut pirang, dengan potongan rambut cukup panjang hingga sebahu. Ia menggunakan gaun krem dengan motif wajik yang sederhana. Ia langsung menghampiriku dan membentakku. Suster di sebelahku mencoba melerainya, namun sepertinya gagal. Aku hanya dapat meletakkan kedua tanganku di depan, menggambarkan untuk meminta menenangkan diri sejenak. Sayangnya, ia tidak paham atas bahasa tubuh yang aku ajukan. Bahkan, ia menarik tanganku dan membawaku keluar dari ruang kayu itu.

Di depan pintu, terdapat sebuah gerobak tiga roda berwarna putih. Aku dan gadis itu menaiki gerobak tersebut dan melaju kencang menyusuri jalan. Gerobak tersebut terbuat dari logam, dengan mesin yang terhubung langsung ke roda belakang melalui rantai. Mesinnya seperti mesin pada sepeda motor bebek, hanya saja sedikit lebih berisik. Bentuk kasarnya seperti kereta kuda, tapi dengan roda kecil bersetang di depannya.

Gerobak tersebut berbelok ke kanan, berpisah dengan jalan utama memasuki sebuah ladang pertanian. Seperti padi, namun lebih tinggi. Aku dan gadis itu tiba di sebuah rumah sederhana terletak di tengah lapangan luas. Serentak aku ditarik ke sisi belakang rumah itu. Terlihat terdapat bekas sesuatu benda terjatuh dan terus bergerak hingga ke ladang. Dalam kondisi emosi yang belum tenang, ia membawaku ke ladang tersebut mengikuti jejak tersebut. Di sana terdapat sebuah pesawat yang berada dalam kondisi terlihat cukup parah. Awalnya aku mengira bahwa mungkin aku terjatuh di sana sebelumnya, namun bagaimana caranya aku dapat terbaring di klinik itu? Padahal jarak yang perlu ditempuh jauh dan tidak mungkin aku dapat diselamatkan bila dibawa dengan berjalan kaki.

Setelah aku menemukan pesawat tersebut, aku melihat ke dalam kokpitnya. Semua instrumen, kursi, bahkan panelnya dalam kondisi baik, hanya saja tidak ada listriknya sehingga tidak dapat dinyalakan. Aku terheran dengan apa yang telah Lucy lakukan hingga membuat kokpit sekokoh ini. Setelah melakukan inspeksi pada instrumen pesawat, aku menghampiri gadis itu untuk meminta keterangan kronologis kejadian. Sayangnya, karena aku bertanya tidak dengan bahasa mereka, gadis itu tidak mengerti apa yang aku bicarakan. Ia justru kembali marah dan segera meninggalkanku tanpa kumengerti apa maksudnya.

Ia langsung kembali ke gerobak motornya dan pergi entah kemana, sementara aku hanya terduduk diam di kokpit pesawat sambil memandang langit sejenak. Aku tidak tahu sekarang ada di mana, negara mana, bahkan aku meragukan bahwa ini di dunia nyata. Tanpa komunikasi, tanpa uang, tanpa apapun, aku hanya dapat terduduk diam sambil menjaga pesawatku agar tidak ada pencuri datang mengambil perangkat pesawat, terutama Maling Besi Tua Madura yang sudah terkenal pandai dalam mencuri besi apapun. Dengan kondisi ini, terlintas pikiranku:

Sepertinya Tuhan sedang menjahili umatnya. Sial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: