Testbed 01 – Ch. 5: Astrid Blackwood

Pagi telah menyambut Cambria, sebuah dunia dimana hamparan ladang gandum dan padang rumput hijau yang luas menghiasi negeri Astralaya. Sebuah dunia dimana teknologi pesawat baru berkembang beberapa tahun ini dan dijadikan sebagai alat transportasi angkutan antar kota di Astralaya yang jaraknya jauh. Mulai dari penduduk, bahan makanan, hingga komoditas hasil karya masing-masing kota diangkut secara massal menggunakan pesawat. Pesawat tersebut menggunakan mesin yang ditenagai oleh sebuah batu bercahaya yang disebut rune stone. Batu yang memendarkan warna merah oranye itu ditemukan dengan cara ditambang di gunung yang memiliki kadar rune stone yang tinggi. Batu ini memancarkan energi yang dapat digunakan untuk menyokong energi pada alat apapun, sehingga diperlukan suatu mesin yang didesain khusus untuk men-transfer energi dari batu ke alat yang diinginkan: mesin pemintal, pembangkit listrik, motor Vespa, mobil, bus, kapal, hingga pesawat. Tidak salah jika batu ini menjadi komoditas utama di dunia Cambria. Rune stone memiliki sistem kerja sebagai gaya pengangkat dan pendorong pada pesawat. Semakin besar suatu pesawat, semakin besar pula rune stone beserta mesinnya yang dibutuhkan.

Beruntungnya, gunung dengan klasifikasi seperti itu dapat ditemukan banyak di negeri Astralaya, sehingga tidaklah sulit untuk menemukannya. Namun, melimpahnya sumber daya tersebut membuat banyak negara iri dan ingin menguasai seluruh tambang tersebut. Salah satu negara yang sangat ambisius untuk menguasainya adalah Aloysius, sebuah kerajaan yang berada di sisi timur Astralaya, di sisi seberang Laut Andien.

Aloysius pernah melakukan invasi ke tanah ini beberapa tahun silam. Pada masa itu, negeri ini belum sebegitu besar seperti sekarang. Dahulu, negara ini terbelah menjadi beberapa kerajaan kecil, dan salah satu kerajaan yang memiliki sumber daya rune stone terbesar adalah Kerajaan Dramaga. Kerajaan tersebut memiliki sumber daya terbesar bukan karena memiliki pertambangan terbesar, melainkan karena Kerajaan Dramaga mendeklarasikan sebagai sentra perdagangan antarnegara di Cambria. Akibatnya, banyak sekali perdagangan rune stone yang dilakukan di kerajaan tersebut. Terlebih kebijakan dari kerajaan tersebut yang menyediakan pusat penyimpanan rune stone terbesar bagi setiap pedagang di sana, sehingga tidak aneh bila Kerajaan Dramaga menyimpan sumber daya rune stone terbesar dan membuat iri Kerajaan Aloysius. Ketika invasi oleh Aloysius dijalankan, kerajaan tersebtu langsung hancur karena kalah secara jumlah pasukan dan teknologi yang diusung oleh Kerajaan Aloysius. Pada saat itu, Kerajaan Aloysius yang memiliki armada pesawat dan armada laut terbesar di antara seluruh negeri. Tentu, seluruh armada tersebut menggunakan rune stone, sehingga invasi ini menjadi invasi termahal bagi Kerajaan Aloysius, dan mereka harus berhasil merebut seluruh rune stone yang ada di Kerajaan Dramaga untuk menebus seluruh pengeluarannya.

Setelah Kerajaan Dramaga hancur karena invasi, raja dan keluarga kerajaan dari Kerajaan Dramaga berhasil ditangkap dan dieksekusi oleh pasukan Aloysius. Berita eksekusi raja dan keluarganya disebarkan ke seluruh pelosok negeri. Seketika, Kerajaan Dramaga secara resmi dikuasai oleh Kerajaan Aloysius. Beruntung, beberapa petinggi Dramaga berhasil kabur dan meminta bantuan kepada kerajaan-kerajaan lainnya. Dengan bermodalkan relasi Kerajaan Dramaga yang baik dengan negara lain, petinggi-petinggi Dramaga berhasil membentuk suatu pasukan koalisi antarkerajaan untuk merebut kembali Kerajaan Dramaga. Pertarungan berlangsung sengit dan memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Namun, pasukan koalisi berhasil merebut kembali kerajaan dan mengusir pasukan Aloysius kembali ke negaranya. Ketika perang tersebut berakhir, para petinggi di dalam koalisi tersebut menyatakan ingin bersatu dan membentuk suatu negara besar untuk menyaingi Kerajaan Aloysius. Atas dasar itulah, lahirlah negara Republik Astralaya yang telah berdiri hingga sekarang.

Sekarang, hubungan antara kedua negara tetap dalam kondisi dingin. Tidak banyak adanya interaksi secara kenegaraan yang terjadi di antara kedua negara tersebut. Ditambah citra Kerajaan Aloysius di mata negara lain yang dinilai tidak baik, sehingga banyak pedagang memilih untuk berdagang dengan negeri selain Aloysius karena alasan keamanan.

Kerajaan Aloysius dipimpin oleh Keluarga Kerajaan Blackwood, keluargaku. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara di keluarga tersebut. Kakakku adalah seorang pangeran di Aloysius dan terakhir ia menjabat sebagai panglima perang pada invasi tersebut. Ia mati dalam perang tersebut, menyisakan kebencianku pada peperangan itu sendiri. Adikku pada saat itu masih berupa bayi yang berumur tiga bulan. Mungkin sekarang telah menjadi permaisuri di sana.

Setelah perang tersebut berakhir, aku melihat dan merasakan penderitaan dari seluruh lapisan masyarakat Aloysius. Tentara, petinggi negara, hingga penduduk merasakannya. Ayahku selaku Raja Aloysius menyalahkan Kerajaan Dramaga dan pasukan koalisi atas penderitaan ini. Oleh karena itu, ayah dengan kekuatan kerajaannya membangun kembali armada perangnya dan membuatnya lebih kuat dan besar. Untuk mengujinya, ayah mencoba menginvasi negara-negara kecil yang ada di sekitar Aloysius, sekaligus memperbesar wilayahnya. Aku telah mencoba menghentikannya, namun justru aku dianggap menyimpang dari paham keluarga dan diisolasikan dari dunia luar di dalam kamarku. Oleh karena itu, aku melarikan diri dari kamar dan mengasingkan diri dari kerajaan ayahku menuju Republik Astralaya melalui jalur darat. Walaupun aku berasal dari keluarga kerajaan, namun aku tidak suka akan kebijakan ayah yang terlalu ambisius akan menguasai Republik Astralaya dan mengesampingkan penderitaan rakyatnya.

Sesampainya di sana, aku membuka klinik di pedesaan dekat Suryachandra. Aku tahu bahwa di sana tidak banyak warga yang sakit di sana, namun ini merupakan satu-satunya cara agar aku dapat membaur dengan masyarakat tanpa harus identitas asliku terekspos. Karena keterbatasan bahasa yang aku miliki, aku tidak memiliki banyak relasi di pedesaan itu. Namun, dengan buku pengantar Bahasa Astralaya yang aku bawa ketika melarikan diri dari kerajaan, aku mencoba untuk berkomunikasi dengan masyarakat sekitar hingga sekarang.

Aku terbangun dari tidurku yang tenang. Pagi yang indah dan burung berkicauan menyapa pagiku. Hamparan gandum dan angin yang sejuk menyejukkan hatiku. Aku merasakan kebahagiaan akan selalu ada di sampingku, sehingga aku harus bersemangat menyambut hal itu.

“Selamat pagi, Astrid. Bagaimana tidurmu?” Sapa Raden dengan menyuguhkan secangkir air mineral hangat kepadaku.

Raden Wijaya, seorang pengelana yang berasal dari suatu daerah antah-berantah bernama Indonesia, adalah orang pertama yang dapat aku ajak untuk berbicara. Cara berpakaian, bahasa, dan kendaraan yang digunakannya sama misteriusnya dengan kedatangannya di Astralaya. Pada waktu itu, sekitar empat hari yang lalu, kondisi cuaca di luar klinik sedang hujan. Ketika aku melihat keluar jendela, tiba-tiba sebuah benda langit jatuh di ladang dekat klinik. Sebagai pengurus klinik dan tenaga medis di pedesaan sekitar ladang, aku harus memastikan tidak ada korban luka-luka atas kejadian itu. Serentak aku mengambil kotak medis dan payung, lalu bergegas menuju lokasi kejadian.

Tidak mudah untuk mencapai tempat tersebut. Benda tersebut jatuh di tengah ladang jagung, cukup jauh untuk menuju ke sana dari jalan utama. Selain itu, aku tidak memiliki kendaraan apapun karena aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli kendaraan, bahkan Vespa, kendaraan yang termurah sekalipun. Oleh karenanya, aku hanya dapat berjalan kaki menuju lokasi jatuhnya benda asing tersebut. Lebatnya tanaman jagung di sana menyebabkan aku pernah tersesat karena tidak dapat melihat asap hitamnya.

Tiga puluh menit berlalu, aku menemukan lokasi jatuhnya benda asing tersebut. Aku perkirakan mungkin akan memakan waktu sekitar satu jam untuk tiba dari klinik. Di sana, aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Bentuknya seperti sebuah tabung besi berwarna abu-abu dengan salah satu ujungnya yang berbentuk lancip. Di belakangnya terdapat jejak benda jatuh dan mengeluarkan pijaran api kecil namun banyak di sekitar jejak tersebut. Aku menduganya ini adalah sebuah pesawat, namun aku belum pernah melihat pesawat seperti ini sebelumnya. Ketika aku melihat benda besi tersebut dari sisi lain, aku melihat terdapat kapsul kaca yang berwarna sangat aneh. Warnanya jingga, namun aku dapat melihat bayangan diriku sendiri. Benda ini terlihat seperti cermin, cermin yang sangat aneh. Saat aku mencoba menyentuhnya, kapsul tersebut bergerak sendiri dan memperlihatkan isi dari pesawat tersebut. Aku melihat sosok manusia terduduk di dalamnya. Ia terduduk di dalam kursi, terdiam seakan sedang pingsan. Di depannya terdapat suatu papan bercahaya biru muda yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Di sana terdapat tulisan dan gambar-gambar aneh yang terpampang di papan tersebut.

Aku mengesampingkan keanehan-keanehan tersebut, berfokus pada sosok yang duduk di dalamnya. Aku memasuki tempat yang sempit itu dan mengecek tanda-tanda kehidupan dari sosok itu. Dia masih hidup, namun tidak sadarkan diri. Langsung aku membawanya ke klinik, namun melalui jalan lain karena aku tidak tahu arah menuju klinik dari sini. Aku membawa orang pingsan tersebut ke sebuah rumah kecil di tengah ladang. Sepertinya tidak ada orang di sana, namun aku menemukan Vespa terdiam di sana. Tanpa pikir panjang, aku meletakkan orang itu di Vespa dan aku mengendarainya hingga ke klinik. Aku tahu bahwa Vespa ini milik seseorang, namun karena alasan mendesak maka aku harus menggunakan Vespa itu.

Sesampainya di klinik, aku membawa orang itu ke dalam dan membaringkannya di tempat tidur. Kondisinya tetap koma, dan badannya terasa mulai mendingin. Aku menyalakan api di perapian dan memanaskan air untuk kompres. Sambil menunggu, aku mencoba mencari obat apa yang tepat agar orang itu tidak mengalami hipotermia. Sayangnya tidak ada obat yang tepat baginya, hanya sebotol kecil berwarna merah yang aku temukan. Aku tahu bahwa itu obat penyembuh segala penyakit, namun obat tersebut cukup mahal harganya dan aku tidak memiliki uang dan persediaan lebih. Namun, daripada usaha menyelamatkan dirinya menjadi sia-sia, aku memilih untuk memberikannya obat itu. Aku membuka mulutnya dan membuat orang tersebut meminumnya. Setelah itu, aku mengambil kain kecil, merendamnya di dalam panci yang berisi air hangat, lalu mengompresnya di bagian kening orang tersebut.

Setelah berlangsung seharian, aku kembali bimbang apakah nyawa orang ini telah kuselamatkan atau tidak. Kondisi badannya telah kembali normal, namun ia tetap belum sadarkan diri. Aku hanya dapat mengompres dan merawatnya saja, sementara obat yang telah kuberikan sebelumnya tidak ada lagi. Akhirnya, aku bertekad untuk tetap merawatnya hingga akhirnya ia siuman, setelah terbaring selama tiga hari di tempat tidur.

“Ada apa, Astrid?” Tanya Raden, membangunkan aku dari pikiran berat pagiku mengenai asal-usul kemunculan Raden, “Sepertinya kau sedang mengalami masalah, ada apa?”
“Ah, tidak. Bukan apa-apa.” Balas Astrid dengan malunya.
“Kau yakin? Karena daritadi kamu hanya melamun seperti memiliki masalah yangb serius.”
“Tidak. Betul, aku tidak apa-apa.”

Setelah itu, aku hanya dapat tersenyum melihat Raden telah kembali pulih setelah peristiwa itu. Di balik semua itu, aku masih menganggap bahwa Raden adalah sosok yang misterius. Aku tidak dapat mengatakan bahwa ia adalah teman atau lawan, namun ada baiknya aku berbicara apa adanya sambil mencari informasi lebih jauh mengenainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: