Testbed 01 – Ch. 8: Culture Shock

Astrid menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya, memegang erat-erat keranjang pikniknya. Ia terdiam berdiri di depanku. Suasana yang pada awalnya ceria berubah menjadi suram, walaupun kondisi cuaca tidak berubah. Sepertinya aku salah dalam melontarkan pertanyaan. Pertanyaan yang seharusnya tidak dijawab, dilontarkan dari mulutku secara tidak sengaja. Aku ingin meminta agar jangan memaksakan diri untuk menjawabnya, namun waktu berkata lain. Saat aku mulai membuka mulutku, Astrid mulai menceritakan kisah perang tersebut.

“Itu adalah perang antara Bangsa Astralaya dan Bangsa Aloysius. Perang tersebut disebut dengan Invasi Aloysius, juga merupakan perang terbesar di Cambria. Perang itu berlangsung selama 3 tahun dan memakan korban yang sangat banyak.”

Cara berbicaranya pun berubah, dari menggunakan nada dan penekanan yang bersemangat berubah menjadi nada yang lebih rendah dan selalu bergetar, serta penekanan yang lebih lemas. Hal tersebut menandakan bahwa apa yang akan dikatakannya bukan hal yang ia ingin ingat kembali. Sebuah kenangan buruk yang telah mendarah-daging menjadi sebuah nilai yang tabu. Ia pun kembali melanjutkan ceritanya.

“Pada akhirnya, Bangsa Astralaya berhasil merebut kembali tanah mereka. Walau demikian, rasa ketakutan yang dihasilkan dari perang tersebut tidak mudah dihapuskan. Bahkan, ada beberapa penduduk desa yang masih menyimpan kenangan kelam itu.”

Aku tak tahan melihatnya. Melihat seseorang yang merasa telah menderita akibat suatu peristiwa dan trauma akannya adalah suatu hal yang salah menurutku. Aku ingin menghentikannya, segera. Serentak dengan pikiran itu, aku memegang kedua pundak Astrid dan mencoba menenangkan dirinya. Terasa sedikit guncangan tremor di tanganku saat aku memegang kedua pundaknya, menandakan bahwa ia terkaget akan hal itu.

“Baik, cukup, Astrid. Aku tahu kamu tidak ingin menceritakan tentang itu lagi,” pinta aku untuk menghentikan ceritanya, “Jangan memaksakan diri, tidak perlu kamu jawab lagi tentang hal itu.”

Astrid meronta dan mulai menangis. Luapan emosinya masih terpancar dari sikapnya itu.

“Kamu tidak mengerti! Perang tersebut telah membuat banyak orang menderita! Aku lihat dengan mataku sendiri! Aku tidak ingin ada perang lagi! Aku ….”

Aku mencoba menenangkan dirinya. Aku menggoyangkan dirinya sejenak untuk membuat dirinya diam sejenak. Sebuah cara klasik yang ditunjukkan di setiap sinetron di televisi Indonesia.

“Hei! Ingat, perang tersebut sudah lama selesai. Sekarang lihatlah. Negeri ini dalam keadaan damai, dan aku jamin tidak akan ada perang lagi di negeri ini. Percayalah.”

Akhirnya dia mulai menenangkan dirinya dan mulai menghentikan air matanya. Kita berdiri terdiam di tengah hamparan dunia yang indah, namun memiliki sejarah yang kelam. Sepertinya kekejaman perang pada masa itu sama kejamnya dengan Perang Dunia Ke-1 di duniaku. Berlangsung lama, merugikan pihak yang kalah maupun menang, dan meninggalkan jejak pedih dalam kenangan setiap orang yang terkena imbasnya.

Angin dingin mulai menghembus di tengah suasana yang kelam ini. Suasana hati menjadi tenang, namun tidak dengan hidungku. Aku lupa akan jaketku di tempat pesawatku jatuh, sehingga aku tidak dapat menahan rasa kedinginanku. Karena itu, hidungku terasa gatal dan aku ingin bersin. Namun, untuk menjaga kesopanan, setidaknya bersinku tidak menyembur ke orang lain, aku memalingkan wajahku ke kanan lalu bersin. Bersinnya cukup keras, namun beruntung hanya sekadar bersin saja. Astrid yang pada awalnya murung, kini tersenyum menahan tawa setelah melihatku bersin.

“Kamu tidak kuat dingin, ya?” Begitu katanya.
“Maaf, aku lupa membawa jaketku tadi.”
“Kalau begitu, ayo ke klinikku. Kita akan menghangatkan diri di sana.”

Astrid kembali melanjutkan perjalanannya, diikuti dengan aku. Ia berjalan layaknya seorang gadis pedesaan yang berjalan bergembira di tengah hamparan padang bunga yang indah. Walau ia bukanlah seorang anak remaja lagi, namun jiwa mudanya masih tersimpan dan terjaga dengan baik. Seperti dalam suatu video klip lagu lokal yang pernah aku tonton ketika masih muda, ia melompat dan melangkahkan kakinya dengan lincah sementara aku mengikutinya. Ia tidak seperti sedang berjalan, melainkan menari. Aku hanya dapat berjalan mengikuti arah ia berjalan sambil tersenyum kepadanya.

Tidak lama, dari kejauhan terlihat sebuah rumah kayu terletak di sisi kanan jalan dengan plang kayu di depannya. Terlihat cukup besar dibandingkan dengan rumah milik petani ladang tempat aku jatuh. Rumah tersebut memiliki jendela yang cukup besar dan memiliki menara yang cukup tinggi di sampingnya, seperti gereja namun tanpa salib di atap. Astrid berhenti sesaat dan membalikkan badannya kepadaku.

“Raden, lihat. Itu klinikku. Kita sudah dekat dengannya. Ayo.” Bilang Astrid dengan cerianya sambil menunjukkan jarinya kepada rumah kayu itu.
“Iya, iya. Tunggu sebentar.” Jawab aku sambil sedikit menertawakan diriku yang ternyata kalah oleh dinginnya hawa pedesaan.

Ketika kita telah tiba di klinik milik Astrid, Astrid membuka kunci pintu dan memasuki klinik tersebut. Klinik tersebut sangat sederhana namun memiliki fasilitas yang memadai sebagai klinik. Dua ruang pasien, perapian, satu meja kerja Astrid dengan peralatan prakteknya, serta lemari penyimpanan obat-obatan di belakangnya.

“Ayo, masuk. Anggap saja rumah sendiri.” Kata Astrid.
“Iya, iya. Permisi.” Aku hanya dapat mengucapkan demikian, lantaran memasuki rumah milik orang lain. Maklum, hal tersebut sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu hingga sekarang.
“Kau tidak harus bersikap seperti itu. Apa itu merupakan suatu kebiasaan di negerimu?” Tanya Astrid dengan rasa janggal akan sikapku.
“Maaf, ini sudah menjadi kebiasaanku.”
“Sudah, kamu tidak harus seperti itu kalau datang kemari. Tunggu sebentar, aku akan menyalakan perapian.” Bilang Astrid.

Astrid lalu menuju ke meja kerjanya di sebelah kanan dari pintu masuk. Ia meletakkan keranjang pikniknya dan menuju ke perapian untuk menyalakan api. Aku hanya dapat berdiri melihat apa yang dilakukan Astrid, sambil menggosok kedua lenganku untuk menahan dingin. Api telah dinyalakan dengan mudah oleh Astrid, dan ia mulai beranjak ke suatu sisi klinik.

“Duduk saja di sini, aku akan menyiapkan minuman.” Katanya sebelum memasuki sebuah ruangan yang ditutup dengan rapat oleh pintu.

Gerakan cepatnya membuat aku tidak dapat menahannya untuk melakukan hal tersebut. Aku bergerak menuju perapian, duduk di salah satu bangku kayu dan menghangatkan diri. Kehangatan dari perapian itu membuat badanku yang terasa beku dan kaku menjadi hangat dan mulai melemas, namun nyaman. Tidak lama, Astrid keluar dari ruangan tertutup itu dan membawakan dua gelas minuman. Ia memberikan satu kepadaku.

“Minum ini, mungkin akan membantu menghangatkanmu.” Katanya sambil memberikan gelas itu.
“Oh, terima kasih.” Jawab aku.

Gelas tersebut terasa hangat, sehingga dapat kutebak airnya hangat. Aku melihat isi dari gelas itu. Airnya terlihat berwarna merah seperti bunga mawar, namun bening. Aromanya sangat kuat, bahkan dapat membuat hidungku berfungsi kembali sebagai indera penciuman. Aku mencoba untuk meminumnya secara perlahan karena airnya terlalu panas untuk lidahku. Rasanya cukup aneh, pedas, manis namun pahit. Sepertinya ini adalah air rebusan kayu manis ditambah dengan mint. Melihat reaksi anehku, Astrid menahan tawa dengan tangan kirinya, namun sepertinya tidak terbendung, hanya tawaan kecil saja yang keluar dari mulutnya.

“Raden, Raden. Kamu adalah orang teraneh yang pernah kutemui selama aku menjadi suster klinik di sini.” Lanjut Astrid, “Kamu tidak tahan dingin, tidak mengerti dengan daerah ini, bahkan kamu tidak menyukai minuman kesukaan warga sini.”

Aku hanya dapat menahan malu dengan perkataan itu. Memang tidak salah jika aku dibilang aneh, namun akan terasa malu bila yang mengatakannya adalah seorang wanita yang cantik belia.

“Begini saja, kamu habiskan saja minumannya. Lalu, nanti kita mulai mempelajari Bahasa Astralaya. Oke?”
“Aaa…, ya.” Sambil menahan malu.

Astrid menghabiskan minumannya lalu membawa gelasnya ke meja kerjanya. Lalu, ia mulai mencari buku pengantar bahasa tersebut sambil tersenyum menahan tawa.

Siang yang cerah di klinik milik Astrid hari ini disuguhi dengan kekonyolan yang aku telah perbuat. Sial atau apes, aku tidak mengerti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: