Testbed 01 – Ch. 7: Losing One

“Kamu diperbolehkan tinggal di sini dan memperbaiki pesawat. Namun, pesawatmu akan disita sebelum kamu mengganti biaya kerusakan ladang milik Giselle.”

Ucapan yang dikeluarkan melalui mulut Astrid tersebut mengguncang pikiranku. Aku merasakan keguncangan batin yang membuat seluruh pikiranku menjadi tidak berarah. Kesal, sedih, bahagia, tanya, semua menjadi satu. Layaknya sebuah kelompok tanpa seseorang yang memimpinnya, semuanya berantakan. Namun, satu per satu mulai beraturan dan aku mencoba menanyakan mengenai pernyataan tersebut.

“Tunggu sebentar, pesawatku disita? Apa maksudnya?” Tanya aku dengan paniknya.
“Raden, tenang dulu.” Sela Astrid mencoba menenangkan diriku, namun gagal.
“Tidak, tidak. Aku tidak mengerti dengan sita ini, apa ….”
“RADEN, CUKUP!” Bentak Astrid kepadaku.

Seraya dengan bentakan itu, aku berhenti dan terdiam tanpa kata. Walau aku tahu bahwa setiap orang memiliki sisi seriusnya masing-masing, namun aku belum pernah melihat Astrid seserius ini. Tangannya langsung menghampiri bahuku. Ia melihatku dan mencoba menenangkan pikiranku. Ia tahu bahwa aku sedang gelisah, terlihat dari sikap panikku.

“Dengar, aku tahu itu adalah pesawatmu yang paling berharga. Tapi cobalah tenang sebentar, aku akan coba membantumu. Oke?” Bilang Astrid kepadaku dengan tatapan tajamnya.

Tatapannya yang tajam dan serius berhasil menghipnotisku. Sekarang pikiranku berada di dalam kendalinya, mengikuti perintahnya untuk tenang. Astrid lalu berbicara dengan Pak Chandi. Sepertinya terjadi perbincangan tenang namun serius antara mereka berdua. Setelah itu, Pak Chandi pergi meninggalkan aku dan Astrid, diikuti oleh gadis pirang yang mengikutinya. Aku hanya dapat terdiam memandang kepergian Pak Chandi tanpa dapat berkata apapun, tidak mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan nanti. Bahkan telingaku dapat mendengar gemersik tanaman di ladang yang dihembuskan oleh angin dengan jelas. Astrid lalu memalingkan wajahnya kepadaku.

“Sebaiknya kamu ambil barangmu yang dapat dibawa, kita akan pergi sebentar lagi.” Kata Astrid.

Seraya dengan itu, kesadaranku kembali seperti semula. Pandanganku tidak lagi kosong, kepalaku sedikit bergetar. Rasanya seperti nyawaku telah mengambil alih tubuhku dari kendali orang lain. Dengan kembalinya pikiranku, kembali pula kepanikan yang sebelumnya terluapkan, namun dengan intensitas yang lebih rendah.

“Tunggu dulu, bukan itu maksudku. Memang aku harus membayar seluruh kerugian yang aku perbuat, namun Pak Chandi akan menyimpannya di mana? Apakah …”
“Sudah, percayakan saja pada Pak Chandi. Ia tahu bagaimana menyimpan dan menjaga pesawat tersebut.” Potong Astrid dengan cepat.
“Lalu, di mana aku dapat tinggal di sini?”

Saat aku bertanya mengenai hal itu, Astrid terdiam dan berpikir. Mungkin aku salah dalam menanyakan hal itu, lantaran ia adalah seorang wanita cantik. Akan menjadi aneh bila seorang pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan darah atau perkawinan, tinggal di dalam satu rumah. Namun, karena aku merasa membutuhkannya, maka aku menanyakannya dengan spontan. Aku tidak berharap akan tinggal di rumahnya. Namun, cukup diberi kejelasan ada atau tidak, itu sudah cukup. Jika ada, maka aku merasa berterimakasih. Jika tidak, maka aku harus mencari tempat untuk tinggal sendiri, antara tinggal di rumah penduduk, masjid, atau membuat gubuk di hutan atau lapangan. Setelah beberapa saat, Astrid sepertinya mendapatkan ide.

“Aku tahu, kita akan ke Suryachandra besok. Aku pernah merawat seorang kakek yang tinggal di Suryachandra beberapa minggu yang lalu. Beliau mengatakan bahwa jika butuh sesuatu, datanglah ke rumahnya.”
“Memangnya kamu tahu dimanakah rumahnya di Suryachandra?” Tanya aku dengan rasa penasaran dan haus akan kepastian.
“Entahlah, katanya ia memiliki toko roti yang besar di sana. Yang penting, sekarang kita beristirahat dahulu di klinikku. Besok kita berangkat ke Suryachandra dan mencarinya bersama-sama.” Jawab Astrid dengan mudah.

Walaupun tidak cukup kejelasan yang diberikan oleh Astrid, namun selama ia mau ikut mencarinya juga tidak masalah. Hal ini karena aku tidak mau berurusan dengan orang lain, apalagi aku belum fasih bahasa setempat. Setidaknya, aku ikuti saja petunjuk darinya, karena dia terlihat lebih tahu mengenai negeri ini.

“Baiklah, apa yang harus kulakukan?” Tanya aku.
“Karena penduduk di sini tidak paham Bahasa Inggris, sebaiknya kita mempelajari Bahasa Astralaya terlebih dahulu. Kita ke klinik dulu, bukuku ada di sana.” Jawab Astrid.
“Oke. Kalau begitu, aku akan mengambil barang bawaanku dulu.”

Setelah itu, aku menuju kokpit untuk mengambil beberapa barangku yang dapat dibawa. Cokelat, rokok, air, korek, dan peralatan seperti tang dan lain sebagainya, semua yang dapat kubawa kuletakkan di dalam kotak peralatan di mana aku menemukan dan menyimpan peralatan tersebut sebelumnya. Lalu, aku menuju ke Astrid untuk mengikuti instruksi selanjutnya.

“Baik, ini semua barang bawaanku. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Tanya aku.
“Kita ke klinik sekarang dan beristirahat dulu di sana. Ikuti aku.” Jawab Astrid.
“Berapa lama agar kita sampai di klinikmu?”
“Tidak lama, mungkin sekitar 30 menit.”
“Baiklah kalau begitu, kita jalan sekarang.”
“Oke.”

Astrid mengambil keranjang pikniknya, lalu berjalan menuju klinik. Aku membawa kotak peralatanku dan berjalan mengikuti Astrid, menyusuri bekas jatuhnya pesawatku menuju jalan besar. Sebenarnya aku tidak memperhatikan mengenai lama waktu tempuh yang dikatakan oleh Astrid sebelumnya. Kalau dekat, maka aku dapat beristirahat dan bersiap untuk mempelajari bahasa daerah sini untuk esok hari. Seandainya kalau jauh, maka aku dapat memanjakan mataku melihat pemandangan sekitar di negeri Astralaya. Medan perjalanan kami yang sebelumnya adalah tanah pertanian berubah menjadi jalan setapak dengan tiga garis sejajar mengikuti jalan tersebut hingga batas penglihatan. Pemandangan pedesaan bermodelkan Eropa pada masa lampau mengingatkanku pada tema standar abad pertengahan di berbagai film animasi fiksi Jepang. Terlihat indah dan menenangkan hati, serta ditemani dengan gemersik tanaman semacam gandum dan angin yang sejuk membuat hatiku semakin tenang. Selama dalam perjalanan, aku tidak dapat membuat mulutku dan pikiranku terdiam untuk lama. Oleh karenanya, aku mencoba berbincang dengan Astrid untuk menemani perjalanan ini.

“Oh ya, aku belum mengenalmu lebih jauh. Sudah berapa lama kamu menjadi suster di klinikmu?” Tanya aku.
“Cukup lama, sekitar 9 tahun.” Jawab Astrid.
“Wah, pasti sudah banyak sekali temanmu di sini.”
“Tidak juga, penduduk di desa ini hanya berjumlah 35 orang, sangat sedikit.”
“Namun, karena itu juga membuat aku dan penduduk desa saling mengenal satu sama lain.” Lanjut Astrid.
“Oh, begitu.”
“Kamu tahu? Kepala desa di sini dulunya adalah seorang pilot pesawat tempur?”
“Oh ya?”

Dengan senyumnya, Astrid menceritakan kisah Pak Chandi yang dahulu adalah pilot pesawat tempur.

“Sekitar 13 tahun yang lalu, terjadi perang antara Kerajaan Dramaga dengan bangsa asing. Pak Chandi adalah salah satu pilot pesawat kelas interceptor dari Kerajaan Dramaga. Dia merontokkan banyak lawannya, namun hingga suatu saat ia tertembak oleh pesawat kelas corvette milik musuh. Semenjak itu, ia tidak ingin berperang lagi hingga sekarang.”
Lanjut Astrid, “Itulah sebabnya mengapa aku minta agar kamu tenang saja, ia sangat paham mengenai cara merawat pesawat, bahkan ia punya pesawat angkut sendiri, untuk mengangkut hasil panen desa ini ke Dramaga.”
“Oh, begitu. Baiklah, aku berharap Pak Chandi dapat merawatnya dengan baik.” Jawab aku setelah mengetahui maksud dari tindakan Astrid sebelumnya.
“Oh ya, sebelumnya kamu mengatakan terjadi perang sebelumnya. Perang apa itu?”

Astrid menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya, memegang erat-erat keranjang pikniknya. Ia terdiam berdiri di depanku. Suasana yang pada awalnya ceria berubah menjadi suram.

Sepertinya ada yang salah dengan pertanyaan tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: