Testbed 01 – Ch.9: What Lies Behind The Curtain

Malam telah tiba. Aku berada di jendela, duduk bersandar di kusen jendela. Ditemani dengan bintang-bintang gemerlap, fenomena aurora, dan bulan-bulan di angkasa, suasana berubah menjadi syahdu. Sebelumnya, Astrid menyuruhku untuk tidur di kamar pasien yang ada di ujung klinik, karena ia biasa melakukan pemeriksaan pasien di kamar sebelahnya. Aku teringat akan kewajibanku untuk melaksanakan shalat. Dari Dzuhur hingga Isya, tidak ada satupun yang sudah kutunaikan hari ini, karena digunakan untuk mempelajari Bahasa Astralaya yang ternyata tidak berbeda jauh dengan Bahasa Sasak dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Karena ingin menunaikan Shalat Isya selama masih ada waktu, aku mencari kamar mandi untuk berwudhu. Sialnya, tidak terlihat adanya kamar mandi di klinik ini, ditambah dengan tidak terlihat juga tangki air atau semacamnya di sekitar klinik. Apa memang orang-orang di sini jarang mandi? Atau akses airnya yang sangat sulit? Itulah pertanyaanku yang keluar dari hasil pengamatan sementara. Selain itu, aku tidak menemukan Astrid dimanapun, baik di kamar pasien maupun meja kerja. Seakan-akan ia pergi meninggalkan kliniknya tanpa sepengetahuanku, padahal aku ingin menanyakan dimana letak kamar mandi. Semua daerah di dalam klinik telah kutelusuri, kecuali sebuah ruangan dimana Astrid pernah masuk sebelumnya. Dengan rasa penasaran, aku mencoba membuka pintu itu dengan perlahan.

Hal pertama yang kukira sebelumnya adalah hanya dapur beserta tempat cuci piring. Setelah kubuka pintunya, tidak ada apa-apa. Hanya terdapat sebuah tangga menuju ke atas. Apakah ini adalah tangga menuju menara itu? Jika ya, mengapa sepertinya terlihat kurang tinggi dan lebih mengarah ke tengah klinik? Apa terdapat ruangan lagi di atas klinik? Rasa penasaranku semakin besar, hingga aku putuskan untuk melihat ada apa di sana. Satu per satu anak tangga aku naiki dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu, layaknya seorang pencuri memasuki rumah targetnya.

Ketika aku mencapai anak tangga terakhir, aku dapat mengkonfirmasi dugaanku. Ternyata benar, ada ruangan lagi di atas klinik. Ukurannya lumayan besar, bentuknya memanjang, namun cukup rendah karena tepat di bawah atap. Kamar itu sangat gelap, bahkan aku harus menahan diri selama tiga puluh detik untuk mengadaptasikan mata dengan kondisi gelap. Beruntung terdapat kaca ventilasi di ujung kamar, sehingga tidak terlalu gelap di bagian ujung sana. Di kamar ini terdapat banyak sekali barang bekas yang telah usang dan tidak terpakai. Semua barang tersebut dilapisi oleh debu dan sarang laba-laba. Aku mencoba berjalan menuju ujung kamar, ingin mengetahui apa yang ada di kamar ini. Di sepanjang kamar, terdapat jalan kecil yang sengaja dibentuk dengan menggeserkan barang-barang itu ke samping jalan. Hanya enam langkah dari tangga, di antara barang-barang tersebut, terdapat sebuah tirai tipis berwarna putih. Tirai tersebut dihiasi oleh tembakan cahaya rembulan yang masuk melalui lubang di atap. Aku semakin penasaran mengapa terdapat tirai putih di sana. Tebakan bodohku adalah mungkin dulu ini adalah sebuah bak untuk berendam yang telah usang. Mungkin ini adalah sebuah kamar mandi keramat yang biasa muncul di setiap film horor lokal.

Ketika aku menambahkan langkah ku, selangkah dua langkah, aku melihat ada sesuatu di balik tirai itu. Sesosok wanita, dengan kaus kaki putih panjang melebihi lutut dan memakai sebuah gaun tipis berwarna putih dengan motif dedaunan yang bernuansa biru-hijau, terbaring di atas balik tirai. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena minimnya ventilasi dan hanya bermodalkan cahaya rembulan sebagai penerang di ruangan itu. Aku mencoba mendekat ke tirai itu secara perlahan. Ternyata ia adalah Astrid, tertidur lelap di sebuah kasur yang dikelilingi oleh barang-barang bekas dan penuh dengan debu di sebuah loteng yang juga minim ventilasi. Aku tidak mengerti apa yang aku lihat sekarang. Mengapa seorang Astrid, yang telah memiliki kliniknya sendiri sejak lama, harus tidur di sebuah loteng yang tidak nyaman dan sehat? Mengapa ia tidak tidur di salah satu kamar pasien saja? Dalam pikiranku, banyak hal yang ingin aku luapkan di sana. Namun, aku berjalan mundur kembali ke kamar sementaraku agar tidak ketahuan oleh Astrid.

Setelah aku turun dan menutup kembali pintunya, aku kembali ke jendela tempat aku bersandar. Aku duduk di kusen jendela dan melupakan amanat menunaikan shalat isya. Sebagai gantinya, aku mulai berpikir tentang Astrid. Siapa sebenarnya dia? Apa latar belakangnya? Mengapa ia mengatakan bahwa hanya memiliki seorang teman berbicara saja, yaitu aku? Apa motif dia? Dan lain sebagainya hingga aku merasa sulit tidur. Aku kembali termenung dan mencoba mencari beberapa kemungkinan, dilihat dari berbagai fakta yang dapat aku ingat. Hanya hipotesis-hipotesis saja yang dapat aku kemukakan, namun tanpa dasar fakta yang dapat meyakinkanku. Namun, sepertinya serangan kantuk tetap tidak dapat ditahan bagaimanapun caranya. Untuk sementara, aku menyimpan apa yang telah kulihat di dalam benakku. Aku beranjak ke tempat tidur dan mulai memejamkan mata, berharap apa yang akan terjadi besok.

Pagi telah menjelma. Aku terbangun oleh pancaran sinar matahari yang masuk melalui jendela yang lupa aku tutup semalam. Namun, posisiku sekarang berada dalam ketidakpastian. Matahari memaksaku untuk bangun, namun angin dingin yang berhembus dan hangatnya selimut memaksakan aku untuk menetapkan diriku di atas tempat tidur. Sial. Aku membungkus diriku dengan selimut dan memutar badanku ke arah yang berlawanan dengan arah datangnya matahari. Aku kembali merasa nyaman dan akhirnya melanjutkan tidurku.

Tiba-tiba, seseorang datang menghampiriku dari belakangku. Ia tampaknya berdiri saja di belakangku, terlihat dari bayangan yang muncul dari tirai partisi kamar pasien. Dari kepalanya jelas terlihat rambutnya terurai cukup panjang. Ia pasti Astrid dan ia pasti ingin membangunkanku. Aku telah terlanjur menikmati kehangatan selimut dan malas untuk meninggalkan posisiku. Terdengar suara getaran piring dan gelas ketika ia datang. Aku mencium sesuatu yang mengganggu pikiranku. Seperti wangi minuman yang pernah aku minum sebelumnya.

“Raden, ayo bangun. Aku sudah buatkan sarapan, nanti kita langsung ke Suryachandra.”
“Iyaahh….”

Bunyi nampan yang diletakkan di atas meja muncul diantara percakapan itu. Aku hanya membalas perkataan Astrid dan tetap tidur. Rasa malas telah menyelimuti diriku. Melihat hal itu, Astrid merasa sedikit kesal. Ia mengambil segelas air yang ia bawa, lalu menumpahkan sebagian airnya ke atas kepalaku. Rasa dingin air tersebut mengagetkanku, sehingga aku langsung bangun dan membersihkan kepalaku dari tumpahan air.

“Hei, hei, apa ini?”
“Nah, sudah bangun, kan? Ini sarapanmu. Setelah itu kamu bersiap-siap untuk berangkat, karena kita harus berangkat sebentar lagi.”

Astrid langsung pergi meninggalkanku menuju ruang depan. Walaupun ia terlihat masih tersenyum, ia pasti sedang kesal. Aku ingin mencurahkan kekesalanku, namun gagal karena aku masih sibuk membersihkan diri dari air. Sambil menghela napas besar, aku duduk di kasur dan menghadap ke meja kecil di samping kasur, dimana sarapanku yang telah disiapkan oleh Astrid diletakkan. Disajikan olehnya dua helai roti tawar, sepiring telur dadar yang telah dihancurkan, secangkir minuman dari rebusan kayu manis khas warga sini, dan segelas air putih yang sudah tinggal setengah gelas, lengkap dengan sendok dan garpu. Kebetulan perutku sedang lapar berat. Aku menyantapnya dengan lahap, walaupun sedikit menahan rasa aneh di minuman khas tersebut.

Astrid melihat semuanya dari celah di balik partisi kamar pasien, ujung kanan dari posisi kasurku. Sebenarnya aku menyadarinya, namun aku tidak mempedulikan hal tersebut dan memulai menyantap makanan itu. Dimulai dari menghabiskan roti, disela dengan air putih, lalu telur, dan ditutup dengan minuman khas tersebut. Setelah habis, aku meletakkan sendok dan garpu di atas piring dengan posisi sejajar. Suatu penanda yang menandakan bahwa makanannya enak dan aku merasa puas.

Aku berdiri dan mulai meregangkan badanku; dimulai dari pinggang, kepala, hingga kaki. Seperti gerakan senam pemanasan di kaset Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) ketika masih duduk di bangku sekolah dasar dulu. “Krak… Kretek….” Itulah suara yang dihasilkan ketika aku mulai meregangkan tulang bagian leher. Layaknya orang tua dengan tulang-tulangnya yang sudah kaku sendinya. Ketika aku memulai meregangkan kaki, terdapat bunyi hentakan kaki di lorong klinik, tepat di balik partisi kamar sisi ujung kanan. Entah siapa dan apa maksudnya. Aku menoleh ke sumber suara untuk memastikan apa gerangan terjadi. Tidak ada respon dan terlihat apapun di sana. Hanya ada sedikit goyangan pada kain partisi kamar. Aku menyelesaikan peregangan kakiku, lalu berdiri dan berjalan ke ruang depan untuk menemui Astrid, mengatakan bahwa aku telah siap dan menanyakan siapa yang menghentakkan kayu tadi. Biasanya, aku menggunakan jaketku untuk berpergian. Namun, jaketku tertinggal di lokasi jatuhnya pesawatku kemarin. Alhasil, aku hanya dapat bermodalkan kaus berlengan pendek dan celana panjang parasut saja.

Di depan, Astrid sudah berpakaian rapi menungguku. Ia menggunakan gaun berwarna biru muda dengan rumbai putih mengelilingi pergelangan tangan, pinggang, dan bandonya sebagai aksesoris serta membawa keranjang pikniknya. Entah mengapa, ia lebih terlihat seperti seorang pembantu di keluarga orang kaya pada masa Victoria dulu. Ini memang kostum perawat di sini atau ia adalah seorang pecinta cosplay? Itulah hal yang pertama kali aku pikirkan ketika melihatnya. Ada yang tidak beres dengan dunia ini, memang. Ia sedang melihat sebuah jam kecil berwarna emas yang ada di tangannya. Terlihat seperti jam saku yang biasa digunakan oleh para bangsawan Belanda pada masa kolonial dulu, beserta dengan rantai emasnya yang memukau. Astaga, ia terlihat seperti dalam karakter dalam suatu film animasi, sayang aku lupa apa judulnya. Tanggapan pertamaku langsung menghilang begitu saja, seperti sebuah balon yang dipecahkan oleh jarum pentul. Pandanganku terpaku kepadanya selama beberapa detik, terkesima melihat Astrid yang cantik mempesona. Langkah kakiku juga demikian. Namun, kisaran empat detik berselang, aku melihat ada yang salah pada raut ekspresi wajahnya. Ia terlihat lemas dan pucat, memperhatikan jam tersebut dengan lama. Entah apa yang pernah menimpanya, sepertinya ia memiliki pengalaman yang pahit di masa lampau.

“Astrid?” Aku bertanya.
Astrid terkaget mendengar sahutan dariku dan secara cepat menaruh jam itu ke dalam keranjang yang ia bawa.
“Oh, Raden. Kau sudah siap?” jawabnya.
“Aku sudah siap. Apa yang kamu pegang tadi, Astrid?”
“Tidak perlu dipikirkan. Itu hanya jam peninggalan ayahku sebelum ia wafat.” jawabnya sambil memalingkan wajahnya ke atas.
“Oh, maafkan aku. Aku turut berdukacita atas meninggalnya ayahmu,” lanjut aku, “Apa ayahmu dulu seorang dokter di sini?”
Astrid tidak langsung menjawabnya. Ia membuat sedikit jeda sebelum menjawab, sekitar dua detik lamanya. “Iya, dulu ia adalah dokter dan ayah yang baik. Ia mengajariku berbagai hal tentang merawat seseorang yang sakit.”
“Wah, senangnya punya ayah yang baik hati, dapat menurunkan ilmunya pula,” puji aku akan cerita tentang ayahnya.
Astrid tidak merespon apa-apa. Ia membalikkan badannya ke arah pintu depan klinik. “Ayo kita berangkat. Kita tidak ada waktu banyak.”

Aku mengikuti Astrid keluar dari klinik, berkelana menuju Suryachandra. Aku berdoa selama perjalanan agar selamat sampai tujuan; tujuan yang sebenarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: