Travel Journal Tana Toraja – Day 1

Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB. Saya dan teman saya, Amir, duduk di pesawat Lion Air dengan rute Jakarta (CGK) – Ujung Pandang (UPG). Pesawat yang kami naiki adalah Boeing 737-900 ER (Extended Range). Perjalanan akan memakan waktu selama dua jam dan dua puluh lima menit, dengan estimasi keterlambatan dua jam, yang membuat kami akan tiba di Ujung Pandang pada pukul 08.25.

Awalnya kami ragu akan kelancaran perjalanan ini, karena maskapai bergambar singa ini memang terkenal dengan waktu keterlambatan yang sangat lama. Keraguan kami bertambah karena informasi dari teman Amir, yang merupakan orang asli di Tana Toraja, yang berkata bahwa bis menuju ke Tana Toraja baru berangkat pukul 09.00. Namun, karena fase perencanaan sudah terlewati dan kami tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan lebih akan apa yang akan terjadi nantinya, kami memilih tetap melanjutkan perjalanan.

Waktu menunjukkan pukul 04.45. Pesawat yang akan membawa kami ke Daratan Celebes ini lepas landas, mendaki hingga ketinggian jelajah 35.000 kaki. Amir, sambil mendengarkan musik melalui earphone-nya, mengamati perjalanan ini melalui jendela kabin pesawat. Saya langsung tidur untuk menyimpan tenaga di Ujung Pandang nanti. Namun, bukan berarti tidur merupakan hal yang baik. Selama tidur, aku melewatkan pemandangan matahari terbit. Hanya Amir yang melihat dan menyaksikan peristiwa yang indah itu.

Pada pukul 07.15 WITA, pesawat mendarat di Ujung Pandang. Setelah mengambil tas dan bagasi, kami melanjutkan perjalanan ke Poros untuk naik bis menuju Tana Toraja. Untuk mencapainya, kita harus menaiki taksi dengan tarif Rp 80.000,-. Uniknya adalah tarif tersebut dihitung per luas zona, sementara Poros berada di zona terkecil, bahkan hanya membutuhkan waktu lima menit untuk mencapainya. Namun, lantaran tidak ada kendaraan umum lain dan jaraknya yang lumayan jauh bila ditempuh dengan jalan kaki, maka kami putuskan untuk menggunakan taksi untuk ke Poros. Sambil menunggu taksinya dipindahkan ke depan bandara, kami membeli minuman sejenak untuk persediaan di perjalanan nanti.

Setibanya di Poros, kami langsung memesan tiket bis ke Toraja. Walaupun hanya ke perwakilannya, namun kita dapat memesan tiket dan naik bis ke Toraja dari sini. Hal yang lucu di sini adalah ternyata bisnya tiba pukul 10.30, bukan 09.00. Karena itu, kami menunggu bis tersebut hingga tiba di tempat. Saat menunggu, Amir mencoba mengunggah beberapa foto dan status perjalanan kami. Sementara aku, hanya dapat tertidur karena kurang tidur ketika menunggu keberangkatan dari Jakarta.
Bis tiba di tempat kami pada pukul 10.30. Kami langsung membeli tiket dan naik ke bis. Bis tersebut dinilai sangat mewah. Kursinya berbaris 2×2, reclining seat, air conditioned, dan terdapat bantal dan selimut. Perjalanan akan memakan waktu delapan jam hingga Terminal Bis Makale, sekitar dua kilometer dari Tana Toraja. Kami memutuskan untuk tidur karena tidak ada pekerjaan lagi selama di dalam bis.

Sama seperti ketika di pesawat, aku melewatkan pos pemberhentian pertama untuk makan siang. Kali ini, Amir juga demikian. Kami melanjutkan tidur, walaupun tidak makan siang. Namun, seluruh fasilitas tersebut ternyata ada tujuannya. Tujuannya adalah agar seluruh penumpang dapat tidur dengan nyaman dan nyenyak walau kondisi jalan sangat buruk. Aku akhirnya merasakan tujuan dari tingkat kenyamanan bis tersebut. Jalan untuk ke Makale sangat berkelok, bahkan Jalan Nagrek kalah buruknya. Kecepatan rata-rata bis kami mencapai 60 km/h. Kombinasi tersebut membuat aku mabuk darat. Ditambah dengan Amir sedang tidur dan aku tidak mempersiapkan Antimo atau obat antimabuk, mabukku tidak dapat ditahan. Aku mengeluarkan seluruh isi perut ke dalam kantung plastik yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut belanjaan kami. Dengan kondisi lemas, aku terduduk hingga bis mencapai pemberhentian berikutnya.

Sesampai di sana, Amir menyuruhku untuk minum teh hangat dan mengisi perut dengan makanan. Aku dan Amir akhirnya memesan teh hangat dan Indomie Rebus dengan kuah yang banyak. Setelah menyantap semuanya, perutku terasa tenang dan lebih baik dari sebelumnya. Tebakanku adalah karena aku belum makan siang sehingga asam lambungku naik. Sambil menunggu untuk berangkat, aku duduk-duduk di tempat makan menenangkan pikiran dan diri. Sementara itu, Amir menggunakan handycam-ku untuk merekam catatan perjalanan dan kondisi saat ini. Ketika memasuki bis, aku meminta earphone yang digunakan oleh Amir sebelumnya dan mencoba untuk tidur sambil mendengarkan lagu. Selama perjalanan, aku tidak dapat tidur. Namun karena pikiranku terpaku pada lagu yang kudengar, maka mabukku dapat teratasi hingga Terminal Makale.

Pada pukul 18.30, kami tiba di Terminal Makale. Suasana di Makale tidak seramai di Jakarta, namun sejuk seperti di Bandung. Setibanya di Makale, kami menunggu kerabat Amir yang merupakan penduduk di Tana Toraja. Sempat terjadi kepanikan karena kerabat tersebut tidak dapat dihubungi. Beruntung Amir memiliki nomor kontak kerabat tersebut yang lain. Setelah dihubungi, kerabat tersebut menjemput kami dengan sepeda motor. Ia adalah Tomy, lulusan S1 Teknik Elektro ITN Malang. Ia datang bersama temannya yang menggunakan sepeda motor juga. Setelah berkenalan satu sama lain, kami diantar dan menginap di Rumah Tomy.

Rumah Tomy didiami oleh kedua orang tuanya dan kakaknya. Kami tidur berdua di salah satu kamar kosong di rumahnya. Perlu diakui, rumahnya cukup besar dan tidak terlihat seperti rumah adat, bahkan lebih mirip rumah di Jakarta, namun tanpa AC. Untuk menemani malam, kami disuguhi oleh Keluarga Tomy secangkir Kopi Toraja. Karena kami juga penasaran akan kopi tersebut, kami dengan senang hati menerimanya. Kopi tersebut cukup unik, hitam pekat seperti Kopi Tubruk namun rasanya sedikit manis. Sambil menikmati Kopi Toraja, kami berbincang bersama anggota keluarga, bertukar cerita satu sama lain.

Selain itu, kami juga diajak untuk makan malam bersama. Menunya sederhana: nasi putih, ikan asin, dan sambal. Namun demikian, yang membuat makanan tersebut semakin nikmat adalah sambalnya. Sambal tersebut terbuat dari sebuah tomat dan dua buah cabe khas Toraja, namanya Lada Kato’kon. Bentuknya seperti paprika merah kecil, namun tingkat kepedasannya membuat cabe ini menduduki peringkat ketiga cabe terpedas di dunia. Ketika kami menyantap cabe itu, selera makan kami bertambah drastis. Rasa asin dari ikannya dicampur dengan rasa asam pedas dari sambalnya membuat makanan kami semakin nikmat. Perlu kuakui, sambal tersebut sangat pedas, mengalahkan seluruh sambal yang pernah kusantap sebelumnya, bahkan Amir bersimbah keringat di sekujur kepalanya selama makan.

Setelah makan, kami berbincang dengan Tomy hingga larut malam. Ditemani dengan Kopi Toraja dan rokok, suasana malam menjadi pas untuk mengobrol bersama. Karena aku tidak merokok, maka aku hanya menyeruput Kopi Toraja saja. Selain bertukar pengalaman dan latar belakang, kami juga berdiskusi mengenai bagaimana rencana darmawisata kami ke depan. Setelah direncanakan, kami memutuskan untuk beristirahat dan bersiap untuk agenda di esok hari. Pada pukul 01.00, kami beristirahat dan tidur hingga pagi menjelma.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: