Travel Journal Tana Toraja – Day 2

Waktu telah menunjukkan pukul 08.30 WITA, pagi telah menyambut kami di Rumah Tomy. Saya dan Amir terbangun karena kami telah tidur cukup lama. Tidak banyak yang beraktivitas di pagi hari. Memang, menurut keterangan dari Tomy, warga sekitar di Tana Toraja biasanya mulai beraktivitas dari pukul 09.00 pagi hingga 20.00 malam. Saya langsung mengambil pakaian dan alat mandi, menuju ke kamar mandi. Temperatur di pagi hari sejuk, terasa seperti di Bandung. Namun, kondisi airnya kurang lebih sama seperti di Bogor atau Puncak, cukup dingin namun tidak membuat badan menjadi menggigil. Setelah mandi pagi, aku menunggu Amir mandi. Maklum, kamar mandinya hanya ada satu, sehingga harus bergantian. Selama menunggu, aku menanyakan kepada Tomy dan ayahnya mengenai acara Pesta Kematian yang akan diselenggarakan di Tana Toraja. Menurutnya, kebetulan hari ini ada acara tersebut. Walaupun jaraknya tidak dekat, namun prosesinya dimulai siang hari, sehingga kami masih memiliki waktu yang lama hingga prosesi dimulai.

Setelah Amir telah selesai mandi, kami sarapan bersama dengan Tomy. Menunya sama seperti ketika makan malam, namun kami tidak mengeluh karena memang makanannya sesuai dengan selera kami. Setelah itu, kami menunggu temannya Tomy yang akan bersama kami, mengantar kami ke tempat Pesta Kematian tersebut. Selama menunggu, Amir dan Tomy mengobrol mengenai pengalamannya ketika menjelajahi gunung-gunung di Indonesia sambil merokok. Sementara aku hanya dapat mendengar cerita dari masing-masing orang sambil menikmati teh manis hangat yang telah disediakan sebelumnya. Aku juga sempat terpaku sesaat pada handphone-ku untuk melanjutkan jurnal perjalanan yang belum kuselesaikan.

Sekitar pukul 09.40, teman Tomy yang akan mengantar kami telah tiba. Ia adalah Immanuel, teman Tomy yang juga adalah warga sekitar Tana Toraja. Setelah ia tiba, Tomy dan Immanuel melakukan pengecekan kelengkapan keamanan sebelum berkendara. Ternyata mereka kekurangan dua buah helm untuk kami. Oleh karena itu, Immanuel bergegas untuk kembali ke rumahnya dan mengambil helm lagi, sementara Tomy meminjam helm milik kakaknya. Selama mereka bersiap-siap untuk berangkat, aku dan Amir merekam dan mengabadikan beberapa hal yang unik di sekitar Rumah Tomy. Terdapat dua buah lumbung padi, yang menurut Tomy dipergunakan untuk menyimpan padi bagi keluarga besarnya, dan sebuah lumbung kembar yang sampai saat ini belum diketahui digunakan untuk apa. Perlu diketahui, lumbung kembar di Rumah Tomy merupakan satu-satunya lumbung kembar yang ada di Tana Toraja, dan konon terdapat alasan khusus mengapa dibangun lumbung kembar, namun belum dapat dijawab oleh Tomy mengenai alasannya. Tidak lama, Immanuel kembali dengan membawa dua helm, satu ia gunakan dan satu lagi untukku. Setelah itu, kami menggunakan helmnya masing-masing dan bergegas menuju lokasi Pesta Kematian.

Ketika kami tiba di tempat tujuan, ternyata kami tiba di luar dugaan kami sebelumnya. Kami mendapatkan informasi bahwa prosesi utamanya akan dilangsungkan pada pukul 12.30 siang, sementara kami baru tiba pukul 10.20 pagi. Untuk membuang waktu, kami bergegas menuju tempat wisata terdekat.

Tomy mengarahkan kami pada suatu tempat wisata yaitu Kuburan Bayi “Kambira”. Letaknya hanya memakan waktu sekitar 15 menit dari lokasi prosesi dengan sepeda motor. Untuk masuk ke sana, kami haru membayar biaya masuk Rp 5.000,- per orang. Di sana, terdapat sebuah pohon tua yang sudah mulai lapuk, namun masih hidup. Di sekujur pohon itu terdapat banyak sekali lubang yang ditutupi oleh lapisan ijuk. Menurut Tomy, di lubang itulah bayi yang telah mati dikubur. Bayi yang baru berumur satu hingga dua hari dan telah mati, diawetkan terlebih dahulu, dimasukkan ke dalam lubang di pohon itu, lalu ditutup dengan lapisan ijuk dan dipaku dengan paku yang terbuat dari kayu. Keterangan tersebut diperkuat dengan adanya lubang yang terlihat masih baru digunakan, terbukti dengan adanya sedikit noda merah darah pada sisi atas lubang dan ijuknya. Uniknya adalah tidak tercium bau bangkai atau busuk sekalipun di daerah itu, bahkan di dekat lubang yang masih baru itu.

Setelah menggali informasi dan mendokumentasikan semua hal tentang kuburan itu, kami bergegas menuju ke lokasi prosesi Pesta Kematian. Di sana, kami dihimbau oleh Tomy untuk menunggu di luar hingga arak-arakan dimulai. Hal ini dikarenakan terdapat upacara keagamaan dan masyarakat umum tidak diperbolehkan untuk masuk, termasuk kami. Kami hanya menunggu sambil mencari informasi mengenai pesta kematian ini.

Pesta Kematian, atau Pesta Kedukaan, atau sering disebut dengan Rambu’ Solo, adalah pesta adat yang diadakan oleh keluarga besar yang salah satu anggotanya meninggal dunia. Acara ini bersifat wajib dilaksanakan, namun dapat dilaksanakan kapan saja, tidak harus bertepatan dengan saat anggota keluarga wafat. Untuk mengadakan acara ini, biaya yang diperlukan tidak sedikit. Dari keseluruhan keluarga Toraja yang pernah melaksanakan acara ini, tidak ada satupun yang pernah mengadakan acara dengan biaya total Rp 2 Milyar atau kurang. Hal ini dikarenakan untuk merayakan acara ini, dibutuhkan banyak kerbau yang digunakan untuk dipotong dan dimakan bersama, serta biaya lainnya. Sementara itu, harga seekor kerbau di Toraja sangat mahal dan dapat mencapai Rp 1 Milyar seekornya, untuk kerbau yang dinilai bagus oleh pawang khusus. Rata-rata harga seekor kerbau di Toraja dapat mengalahkan harga sebuah mobil SUV di Indonesia.

Saat kami menunggu, terlihat banyak kerbau yang telah berbaris, keluar dari rumah tempat prosesi akan dilaksanakan. Awalnya kami mengira kerbau-kerbau ini akan digiring ke arena pertarungan, karena memang di setiap acara Rambu’ Solo selalu ada acara hiburan bagi khalayak umum, yaitu adu kerbau. Setelah aku tanya ke warga setempat, prosesi yang sedang dilakukan sekarang adalah arak-arakan keliling kampung. Tujuannya sudah jelas, mengabarkan bahwa akan dilaksanakan Pesta Kematian hari ini. Di belakangnya terdapat barisan perempuan yang mengangkat sebuah kain merah yang sangat panjang. Menurut warga setempat, kain tersebut menandakan derajat kebesaran dari yang meninggal. Kain tersebut panjangnya kira-kira 100 meter lebih. Pangkal dari kain itu diikatkan pada sebuah keranda jenazah yang unik. Keranda itu beratapkan rumah adat khas Toraja, diangkut oleh hampir seluruh laki-laki dari anggota keluarga yang bersangkutan, dan ada seorang anak laki-laki berdiri di atas keranda yang bertugas untuk menjaga kain tersebut agar tidak menyentuh tanah. Terlihat dari bentuk keranda dan motifnya yang sangat detil, saya yakin tidaklah murah dan mudah untuk membuatnya. Di belakangnya terdapat sebuah patung yang terbuat dari kayu. Patung tersebut merupakan perwujudan dari fisik siapa yang meninggal, dengan pakaian kebesarannya dan berpose duduk memegang tongkat kebesarannya. Seperti pada keranda jenazah, patung tersebut diangkat oleh anggota keluarganya yang laki-laki, hanya saja tanpa dinaiki oleh anak laki-laki untuk menjaga kain. Kami dengan segera mendokumentasikan momen itu dengan seluruh alat yang ada; handphone, kamera, handycam, semuanya digunakan.

Setelah mereka berjalan melewati kami, kami, bersama Tomy dan Immanuel sebagai pemandu perjalanan kami, berjalan memasuki kompleks rumah tempat prosesi akan dilaksanakan. Di depan kompleks terdapat berbagai jajanan yang sudah siap didagangkan. Aku tidak mengerti mengapa ada hal seperti ini, namun tidak ada salahnya bila bertanya ke Tomy. Menurutnya, acara Pesta Kematian berlangsung sampai sore hari, sehingga tidak jarang banyak yang merasa lelah dan ingin makan dan minum. Sambil menunggu arak-arakan itu kembali ke lokasi, kami memutuskan untuk beristirahat dulu di salah satu jajanan.

Tidak lama, arak-arakan tersebut kembali ke lokasi prosesi. Kedatangan arak-arakan tersebut disambut oleh tabuhan ibu-ibu penumbuk padi yang disebut “Ma’ Lambung”. Peti jenazah diangkat dari keranda, lalu dinaikkan ke atas panggung bertingkat dua. Entah mengapa, setiap jenazah akan digerakkan, seluruh orang yang membawa peti tersebut meloncat-loncat dengan kondisi gembira. Jangankan aku, Tomy pun tidak mengerti mengapa harus berloncatan ketika akan menggerakkan peti mati. Pada saat itu pula, sebagian kerbau-kerbau diikatkan pada pasaknya di suatu lapangan kecil. Setelah pengangkatan peti mati, seorang pemimpin acara mulai membacakan daftar mengenai hal yang berhubungan dengan silsilah keluarganya. Karena menggunakan Bahasa Toraja tingkat tinggi, kami dan Tomy sekalipun kesulitan menangkap apa yang dikatakan oleh pemimpin acara itu.

Setengah jam berlalu, prosesi beralih ke pemotongan hewan. Ada banyak kerbau dan babi yang dipotong di sana. Untuk babi dipotong di sisi kompleks yang lain, sehingga dapat dikuliti dan dibakar sekaligus. Pembakarannya pun tidak menggunakan api unggun atau tungku, melainkan dengan senjata flamethrower. Tidak heran bila ada anak berumur sekitar delapan tahun membawa tabung elpiji 3 kg dan senjata flamethrower di jalanan, karena mereka baru saja atau akan melaksanakan acara pembakaran babi. Untuk kerbau, diadakan acara pemotongan layaknya ketika idul qurban di dekat rumah. Kerbau-kerbau diikatkan diikatkan pada sebuah pasak, baik itu batu, tiang, maupun pohon. Setelah itu, seorang yang diyakini paham dalam hal memotong kerbau datang menghampiri salah satu kerbau. Semua orang berkumpul untuk menyaksikan pemotongan itu, termasuk kami. Aku yang hanya bermodal kamera bersiap untuk memotret, sementara Amir sedang mencari posisi yang tepat untuk merekamnya. Kerbau tersebut mulai diangkat kepalanya oleh salah seorang petugas pemotongan, hingga memperlihatkan leher kerbau itu. Tanpa aba-aba, sebuah parang kecil menghunus leher kerbau itu. Hunusan tersebut langsung memotong tenggorokan kerbau itu. Darah langsung menyembur keluar dari leher kerbau itu, diikuti dengan jatuh lemasnya kerbau itu. Kami tercengang melihat aksi itu. Seekor kerbau, yang notabene sama sulitnya, bahkan lebih, dengan sapi ketika dipotong oleh orang-orang pada saat Idul Qurban di Jakarta, dapat dipotong dengan mudahnya oleh orang di Toraja. Tidak hanya seorang, bahkan tiga orang dapat melakukan hal yang sama, ditambah dengan parang yang berukuran lebih kecil dari yang pertama. Semenjak itu, kami langsung bersiap dan lebih sigap di belakang kamera, menangkap momen pemotongan paling singkat yang pernah aku lihat.

Setelah mulai kehabisan daya baterai di kamera, awan sudah mulai bergerumul di atas tempat Pesta Kematian itu. Khawatir akan hujan, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di warung bakso di depan kompleks. Tepat saat kita duduk di warung, hujan mulai turun membasahi Tana Toraja. Hujan tersebut berlangsung cukup lama sehingga membuat kami sedikit bosan karena tidak dapat menikmati acaranya secara penuh. Kami memutuskan untuk makan bakso hingga hujan berhenti. Terdapat dua macam bakso di Toraja: Bakso Umum yang baksonya terbuat dari daging kerbau, dan Bakso Khusus yang tak lain adalah Bakso Babi. Kami memesan bakso umum saja karena aku dan Amir tidak diperbolehkan makan babi. Penyajiannya hampir sama dengan bakso pada umumnya.

Setelah hujan berhenti, kami bergegas menuju arena pertarungan antarkerbau. Arenanya berada di salah satu petak sawah, dengan pagar bambu di sekelilingnya. Karena hujan deras, arenanya menjadi lembek sehingga menyulitkan kerbau-kerbau untuk bertarung secara maksimal. Namun, itu bukanlah penghalang untuk keberlangsungan pertandingan. Pertandingan dimulai dan kedua kerbau memasuki arena. Kerbau tersebut kesulitan dalam bergerak, bahkan seringkali kakinya terjerembab dalam tanah yang lembek. Pertandingan sangat seru ketika kedua kerbau mulai beradu kepala. Tandukan dari salah satu kerbau dapat menghujam sisi samping kerbau lawannya, membuat kerbau itu lari keluar arena. Kerbau yang menanduknya pun mengejarnya. Kedatangan mereka membuat para penonton di sekitar arena lari menjauh dari kejaran kerbau. Tidak ada rasa marah yang menyelimuti acara, melainkan rasa sukacita dan bahagia.

Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Tidak seperti biasanya, kami hanya beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan kuliner malam. Kami diajak oleh Tomy untuk mencicipi minuman khas Toraja bernama Sara’ba. Penjualan Sara’ba ini tersebar di seluruh Toraja, namun kami diajak untuk menikmatinya di pinggiran kolam di Alun-alun Kota Makale. Tidak seperti di Pulau Jawa, di tengah alun-alun Kota Makale terdapat kolam besar, menggantikan lapangan rumput. Di tengah kolam juga terdapat sebuah patung besar sebesar patung di Senayan, Jakarta. Konon, ia adalah seorang pahlawan di Toraja, namun Tomy tidak mengenal siapa dan dalam perang apa ia beraksi.

Sara’ba adalah minuman khas Toraja yang terbuat dari air jahe, santan, dan sedikit gula aren. Minuman ini sangat cocok diminum pada saat udara dingin, karena hangatnya dan air jahenya membuat badan menjadi lebih hangat. Rasanya seperti minum kacang hijau dengan air jahe, manis, hangat, dan gurih. Ditemani dengan ubi goreng dan pisang goreng, suasana menikmati Sara’ba di alun-alun kota semakin mantap. Setelah menikmatinya, kami kembali ke Rumah Tomy dan beristirahat untuk esok harinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: