Travel Journal Tana Toraja – Day 3

Kami terbangun dari tidur sekitar pukul 09.15 pagi. Di depan rumah, Tomy dan Immanuel telah siap untuk mengantar kami untuk berdarmawisata di Toraja. Karena merasa bangun terlambat, kami segera mandi secara bergiliran. Empat puluh lima menit telah berlalu, kami telah siap untuk jalan-jalan. Untuk hari ini, Tomy mengajak kami untuk melihat-lihat di Pasar Kerbau di Toraja.

Pasar Kerbau di Toraja merupakan pasar kerbau terbesar, tidak hanya di Sulawesi, melainkan se-Indonesia. Letaknya cukup jauh, memakan waktu satu jam ke arah utara, mendekati Kota Palopo. Ukuran pasar tersebut cukup luas, dan hanya kerbau saja yang dijual di sana. Hari bukanya hanya seminggu sekali, dengan frekuensi lima hari libur, sehari baru berdagang lagi, dan tidak pernah terjadi dua kali berdagang dalam satu minggu. Berbagai jenis kerbau dengan harga yang bervariasi dijual disana, mulai dari yang masih muda dan harganya berkisar Rp 50 juta-an hingga yang mencapai lebih dari Rp 500 jutaan lebih seekornya. Selain terawat dengan baik oleh pemiliknya, kerbau di sana tidak luput dari bantuan vaksinasi oleh Dinas Peternakan Pemerintah. Di sebelah Pasar Kerbau, terdapat Pasar Babi dimana berbagai babi dijual untuk prosesi Pesta Adat Toraja. Sayangnya karena waktu sudah siang, banyak pedagang yang telah membawa dagangannya kembali pulang.

Ketika hari sudah siang, kami memutuskan untuk makan siang di sebuah warung makan bernama Warung Pong Buri’. Warung tersebut menyajikan makanan sehari-hari masyarakat Toraja, salah satu diantaranya adalah Tolok Kampung atau Masakan Kampung dengan Sayur Paria atau Sayur Pare. Tolok Kampung merupakan masakan yang terdiri dari daging ayam kampung tua, lalu dibumbui dengan kuah sayur pare. Rasanya sangat sederhana, namun karena ditemani pula dengan sambal khas Toraja, makan serasa nikmat kembali. Setelah makan, kami ditawari oleh Tomy untuk mencicipi minuman tradisional beralkohol khas Toraja. Sebenarnya saya ingin menolaknya, karena menurut Amir perjalanan nanti akan terasa sangat dingin dan saya tidak bawa jaket, dengan sedikit terpaksa saya mencobanya. Tomy sempat menanyakan apakah saya pernah meminum minuman beralkohol sebelumnya. Saya menjawab belum. Tomy dan Immanuel sedikit khawatir atas jawaban itu, sehingga mereka mengatakan bahwa jika saya sudah mulai merasakan pusing, maka minumannya jangan dihabiskan. Tidak lama, hadirlah minuman yang dimaksud, dibagikan ke dalam empat gelas ke masing-masing orang. Namanya adalah Balo’, minuman tradisional beralkohol yang berasal dari ekstrak getah pohon aren yang diencerkan. Saya tidak dapat membayangkan aromanya, hanya sedikit asam saja. Dalam minuman tersebut, terdapat buih-buih kecil yang timbul lebih sedikit dari air soda pada umumnya. Ketika saya meminumnya, rasanya seperti minum minuman pencegah panas dalam yang telah basi; Asam dan aneh, tidak dapat dijelaskan bagaimana rasanya. Namun, yang membuat banyak warga yang meminum minuman ini adalah efek panas di dalam tubuh yang dibutuhkan di saat udara Toraja mulai mendingin. Oleh karena itu, tidak heran bila banyak sekali bir kalengan dijual di warung atau disajikan di setiap kali bertamu ke rumah orang atau pesta adat di Toraja. Beruntung saya dapat menghabiskannya, walau dengan sedikit rasa khawatir akan mabuk yang tidak terkendali nantinya. Namun, Tomy, Immanuel, dan Amir siap membantu saya bila hal itu terjadi.

Setelah makan siang, kami bergegas menuju Batutumonga, sebuah daerah perbukitan dekat Kota Rantepao. Perjalanan ke sana cukup sulit, menyusuri jalan perkampungan yang sudah rusak, menanjak, dan sempit. Kami membutuhkan waktu satu jam lebih untuk mencapai tempat peristirahatan tertinggi. Walaupun perjalanannya tergolong sulit untuk ditempuh, namun semuanya terbayarkan oleh pemandangan yang disajikan di sana. Hijaunya pemandangan pegunungan yang dihiasi dengan pepohonan dan sawah, ditambah dengan Kota Rantepao yang terlihat dikelilingi oleh pegunungan layaknya seperti kota di tengah mangkuk alami, keindahannya membuat diriku serasa tidak ingin pulang. Di tempat peristirahatan, kami menikmati hangatnya Kopi Toraja di tengah sejuk dan indahnya pemandangan Tana Toraja dari Bukit Batutumonga.

Hanya berselang dua puluh menit, awan gelap mulai bergeser ke arah bukit, membuat kami khawatir akan terjebak hujan. Kami langsung bergegas kembali, namun melewati jalur lainnya. Jalurnya melewati salah satu tempat wisata kuburan keluarga setempat. Di kuburan ini, mayat yang telah diawetkan sebelumnya dimasukkan ke dalam batu kali berukuran rumah tiga lantai yang telah dipahat sebelumnya. Kuburan ini bernama Loko’ Mata. Pada kuburan ini, terdapat tiga tingkatan dengan ketentuan yang berbeda. Tingkatan pertama adalah bagi orang biasa. Tingkatan berikutnya di atasnya adalah bagi orang yang bukan bangsawan, namun dikenal paling berjasa bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Sementara tingkat teratas adalah bagi bangsawan. Selain di tingkat kuburan, perbedaan juga terlihat pada barang apa yang dibawa bersama dengan mayatnya. Hal ini dikarenakan masyarakat Toraja masih menganut paham reinkarnasi, dimana mereka yang telah mati akan hidup kembali di alam kedua, dan barang yang dibawa akan mereka gunakan di alam kedua. Bangsawan, misalnya, dipakaikan baju kebesarannya dan disertakan seluruh perhiasannya di dalam peti matinya. Untuk kaum biasa, hanya dipakaikan dan disertakan pakaian sehari-harinya saja.

Setelah puas melihat dan mendokumentasikan situs Loko’ Mata, kami bergegas untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Dalam perjalanan, kami singgah sebentar di suatu tempat makan. Di sana, Tomy memesan satu makanan khas Toraja untuk dibawa pulang. Nama makanannya adalah Masker, terdiri dari ayam kampung yang dipotong dadu lalu ditumis dalam campuran jahe, kunyit, serai, dan lengkuas. Sambil menunggu, saya melihat sekitar rumah makan itu. Di belakang tempat penyajian, terdapat dua lembar kertas berukuran A4. Salah satu kertas berisikan angka perkalian; satu sisi adalah angka dari satu sampai sepuluh, di sebelahnya adalah angka yang berkisar puluhan ribu tapi dari atas hingga bawah tetap sama angkanya, dan sebelahnya lagi adalah hasil perkaliannya. Pada lembar lainnya, terdapat daftar menu beserta harganya. Saat saya bandingkan apa maksud dari kedua lembar kertas itu, ternyata kertas yang berisi angka perkalian itu merupakan petunjuk harga penjualan makanannya. Saya sedikit terheran. Mengapa harus menuliskan daftar perkalian tersebut? Mengapa tidak menggunakan kalkulator, sempoa atau hitung sendiri dengan alat tulis dan kertas? Hipotesis pun muncul, yaitu sebagian pedagang di Tana Toraja berpendidikan rendah atau tidak sama sekali. Walau demikian, saya harus mencari fakta lain yang dapat memperkuat hipotesis saya. Untuk sementara, saya memilih untuk disimpan dulu lalu ditanyakan kembali di rumah.

Sesampainya di rumah, kami menyantap Masker sebagai menu makan malam kami. Rasanya sangat sederhana, namun tetap nikmat. Setelah menyantap makan malam, saya menanyakan Tomy mengenai kertas petunjuk perkalian di rumah makan tadi. ia sendiri tidak dapat meyakinkan bahwa memang sebagian pedagang kurang berpendidikan. Oleh karena itu, saya harus mencari fakta di luar untuk meyakinkan hipotesis saya di esok hari. Karena kantuk sudah mulai mempengaruhi pikiran, saya menuju kamar dan langsung tidur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: