Testbed 01 – Ch. 10: New Chapter

Suryachandra, 17 Augurs, Tahun 187.

Tidak terasa sudah tiga tahun aku berada di dunia ini. Belum ada tanda-tanda bahwa aku dapat pergi dari dunia ini. Mungkin memang ini bukanlah mimpi belaka seperti yang aku yakini hingga kini. Aku merasa menyerah untuk kembali ke duniaku. Aku yakin, diriku yang sebenarnya telah mati, dan sekarang aku berada di dunia akhirat, atau mungkin semacam reinkarnasi.

Aku mencoba membasuh mukaku dan melihat diriku di balik cermin. Tidak banyak yang berubah di wajahku. Mungkin karena aku tidak menyadarinya.

“Sudah tiga tahun aku di dunia ini,” aku menghela napas, “Gimana kabar mereka di sana?”

Di balik itu, terdapat tempat tidurku selama ini. Aku berada di kamarku yang berada di loteng toko roti. Tidak terlalu bagus perabot di sana, lantaran isinya tak lain adalah barang-barang bekas milik sang pemilik toko. Terlepas dari itu, ruangannya cukup luas, lebih luas dari kamarku ketika di Dolok. Karena tidak banyak perabotan yang ada, aku juga membelinya dari pasar seperti meja, kursi, dan buku catatan kecil. Semenjak aku di sini, aku memilih untuk menuliskan seluruh ceritaku selama aku di dunia ini.

Dengan senyum pasrah, aku jalan menuruni tangga. Di bawah, Pak Jumiri sedang merapikan etalase roti sebelum membuka toko.

Selama tiga tahun ini, aku bekerja sebagai penjaga toko roti milik Pak Jumiri. Karena gajinya tidak terlalu besar, aku bekerja sambilan sebagai seorang montir di sebuah bengkel kecil di dekat terminal. Bengkel tersebut biasanya melayani berbagai macam jenis kendaraan, mulai dari Vespa hingga bus antarkota. Sengaja aku memilih untuk menjadi montir karena aku juga ingin mempelajari apa yang ada di dunia ini, dimulai dari kendaraannya beserta permesinannya.

“Pagi, Pak Jumiri.”

“Ah, pagi, Raden,” beliau menyapa, “Kau jadi pergi ke rumah Astrid?”

“Iya, pak. Sudah lama tidak bertemu dengannya.”

Hari ini aku memang meminta izin untuk pergi. Bukan cuma untuk bertemu Astrid, namun untuk menengok pesawatku. Kali ini adalah yang keenam kalinya aku pergi selama tiga tahun ini. Setiap aku kembali ke sana, aku membawa makanan untuk Astrid dan perkakas untuk memcoba memperbaiki pesawatku.

Kali ini adalah hari spesial. Pesawatku tinggal memerlukan final check dan uangku sudah cukup untuk membayar kerugian ladang Giselle yang rusak dahulu kala. Untuk memperingatinya, aku membawa kaleng cat warna merah dan putih. Aku juga membawa kuasnya masing-masing agar warnanya tidak tercampur.

“Raden,”

“Kenapa, pak?”

“Tolong titip ini ke Astrid,” beliau memberikan sebuah keranjang berisi bermacam roti.

“Baik, pak,” jawab aku, “Ini Roti Kamiri yang biasanya, kan, pak?”

“Tanpa mentega dan saus berlebih. Hahaha!” jawab Pak Jumiri dengan tertawa. Kami berdua tertawa bersama layaknya teman sepekerjaan.

Lalu, lanjut beliau “Sama titip salam untuknya, ya.”

“Oke, pak. Saya berangkat dulu.”

Toko roti milik Pak Jumiri terletak di pinggiran kota Suryachandra, tepatnya di bagian selatan kota. Kota ini menjadi pintu masuk bagi para pendatang untuk masuk ke pusat kota, sehingga banyak penduduk desa dan pendatang yang lalu lalang melalui daerah ini. Tidak heran bila tiga tahun yang lalu, ketika aku bersama Astrid, Pak Jumiri tidak keberatan dan merasa aneh bila bertemu dan berinteraksi denganku. Ia pernah bercerita bahwa setiap orang di dunia ini tidak ada yang buruk, dan keburukan seseorang hanya muncul bila mereka dipaparkan oleh keburukan itu sendiri. Walaupun tidak sepenuhnya benar, tapi aku dapat memahami bagaimana prinsip hidupnya yang mau menerima seluruh orang tanpa pandang bulu.

Aku berjalan keluar toko menuju terminal bus dan pergi menuju Desa Sengguruh. Itu adalah tempat mereka tinggal, setelah diberitahu oleh Astrid sebelumnya. Perjalanan akan menempuh waktu dua jam dari terminal

*****

Desa Sengguruh, approx. 10 AM

Seperti biasanya, perjalanan sudah ditempuh selama dua jam. Cukup jenuh, namun tidak masalah karena selama perjalanan, kali ini aku memilih untuk menulis apa saja kegiatanku kemarin. Seorang kernet bis melontarkan tempat tujuanku. Aku mengakhiri tulisanku dan mempersiapkan diri, mengambil barang-barangku di bagasi, lalu berdiri di samping kernet di dekat pintu keluar.

Bis mulai berhenti di pinggir jalan. Tidak ada apa-apa kecuali hamparan ladang yang luas dan langit biru yang indah. Inilah Desa Sengguruh. Belum ada yang berubah selama tiga tahun ini. Aku menuruni bis. Tidak lama, bis tersebut pergi menyelam ke dalam hamparan ladang hingga menyisakan suara mesinnya saja. Tidak ada transportasi lainnya untuk ke tempat Astrid, sehingga aku harus jalan kaki ke sana. Dapat memakan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di sana.

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, hari ini aku berencana untuk pergi ke rumah Astrid, lalu menuju ke rumah Pak Chandi untuk menyelesaikan pembayaran ganti rugi kepada Giselle. Bahagia rasanya bila sudah tidak memiliki beban untuk membayar hutang, seperti menunggu waktu pembebasan dari sebuah penjara.

Tidak lama kemudian, klinik Astrid pun terlihat. Bangunan yang terbuat dari kayu berwarna coklat dengan menara di sisi kanannya. Tidak banyak yang berubah semenjak tiga tahun yang lalu. Namun, kali ini Astrid memiliki satu Vespa yang ia gunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat desa dari pintu ke pintu. Vespa itu sebenarnya pemberian dariku sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya ketika aku tersungkur di ladang Giselle tiga tahun yang lalu. Walaupun hanya sebatas kendaraan bekas, aku bersyukur ia mau menerimanya dan menggunakannya untuk keperluannya.

“Hai, Raden!” Seseorang menyapaku dari dalam klinik.

“Hai, Astrid.”

Ia mendatangiku dari sisi kiri klinik. Tidak seperti biasanya, bajunya terlihat kumal dan banyak noda oli dimana-mana. Sepertinya ia mencoba memperbaiki Vespanya, namun gagal. Aku hanya dapat menahan tawa sembari mencoba bersimpati kepadanya.

“Masih mencoba memperbaiki Vespamu, Astrid?” Tanya aku sambil sedikit tertawa.

“Jangan tertawa, kamu!” Jawab Astrid dengan nada kesal. Aku sudah menebaknya kalau ia ingin sekali memperbaiki Vespanya.

“Aku tidak tertawa, cuma terheran kenapa bajumu kumal sekali.” Jawab aku, “Seperti, habis mandi oli. Hahaha!”

“GRR… RADEEN!” Astrid dengan marah lari kepadaku dan ingin memukulku. Sepertinya tabiat lamanya muncul kembali. Aku memilih untuk lari menghindarinya sembari menunggu hingga ia merasa lelah.

“Weee, tidak kena.” Jawab aku setiap pukulan Astrid meleset dari diriku.

Melihat muka dan perilakunya membuatnya lucu nan menawan. Aku sangat senang melihatnya seperti ini.

“Awas kamu, ya!” kata Astrid masih kesal.

“Sudah, sudah,” jawab aku, “Kamu ganti baju dulu, aku bawakan Roti Kamiri dari Pak Jumiri.”

“Humpf.” Ia memalingkan wajahnya dan langsung berjalan ke dalam klinik. Aku tahu ia masih kesal, jadi aku sengaja diamkan dia sesaat.

Sembari ia berada di klinik, mungkin sedang mengganti pakaiannya, aku memilih untuk duduk santai di teras klinik. Memandangi langit biru yang bertemu dengan ladang yang menguning tentu mampu memanjakan mataku. Sayang bila aku harus berpisah dengan dunia ini dengan cepat, lantaran tidak akan lama lagi aku akan mendapatkan kembali pesawatku dan dipersilahkan untuk pergi kembali ke daerah asalku. Walau begitu, aku masih tidak tahu kemanakah aku akan pergi. Aku berharap dapat tinggal kembali di kota bersama Pak Jumiri, dan bertemu dengan Astrid kembali.

Pintu klinik terbuka, dan Astrid muncul dari dalam dengan pakaian perawatnya yang berwarna biru muda. Seperti dulu, tidak berubah.

“Ini rotinya, kita santai dulu saja di sini sambil makan.” Aku berkata seraya memberikan Roti Kamiri ke Astrid.

“Terima kasih.” Jawabnya dengan senang.

Kami duduk berdampingan di teras klinik, sambil menikmati Roti Kamiri spesial buatan Pak Jumiri.

“Jadi, bagaimana kabarmu?”

“Baik, Alhamdulillah.” Jawab aku, “Setelah tiga tahun aku bekerja sebagai asisten Pak Jumiri dan montir di bengkel, hari ini aku akan melunasi hutangku pada Giselle dan mendapatkan kembali pesawatku.”

“Hari ini aku membawa dua kaleng cat untuk memberikan sentuhan terakhir untuk pesawatku, semacam untuk merayakan bahwa aku dapat terbang kembali dengan pesawatku.”

“Syukurlah, kamu dapat kembali pulang ke daerah asalmu. Kamu pasti rindu sekali dengan rumahmu, kan?” Tanya Astrid.

“Ummm, iya. Begitulah.” Jawab aku dengan sedikit tertahan, “Oh ya, bagaimana dengan Vespamu?”

“Baik, Humdooilah. Beberapa warga di sini menyambut dengan baik adanya pelayanan kesehatan keliling di desa. Ternyata beberapa warga tidak mampu ke klinik bila sakit karena jauh.” Jawab Astrid.

Sebenarnya aku ingin tertawa kecilku karena aku baru sadar dia mencoba untuk mengatakan ‘Alhamdulillah’, namun dia tidak tahu cara pengucapannya. Ada baiknya aku tahan saja tawa kecilku.

“Wah, bagus kalau begitu.” jawab aku tersenyum.

Lalu, percakapan kita terhenti sejenak karena ingin menghabiskan rotinya terlebih dahulu. Aku menyantapnya dengan lahap, namun tidak dengan Astrid. Ia terlihat diam sedang memikirkan sesuatu. Ia memainkan kedua jempolnya sambil menaikkan bahunya.

“Astrid?”

“Ah, iya. Maaf, aku tadi tidak memperhatikanmu.”

“Apa kamu tidak apa-apa?”

“Ah, tidak, kok. Tidak apa-apa.”

“Kamu sepertinya lelah, apa kamu mau istirahat dulu saja di klinik?”

“Eh, tidak apa-apa kok. Kita mau berangkat sekarang?”

“Hmm, oke. Jika kamu tidak keberatan.”

Setelah itu, aku mempersiapkan tasku dan, bersama Astrid, berjalan menuju rumah Pak Chandi untuk menemuinya dan membahas akan pesawatku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: